Ia menyapa ibunya dengan panggilan lembut, “Mama Reti”. YBS memohon sang ibu merelakan kepergiannya. Ia juga meminta ibunya tidak menangis.
Di akhir surat, terdapat sketsa wajah anak yang sedang menangis. Detail kecil itu mengiris hati siapa pun yang melihatnya. Itu jeritan sunyi dari jiwa yang putus asa.
Sehari sebelumnya, YBS memang meminta uang untuk membeli buku. Sang ibu, MGT (47), menjawab jujur bahwa uang tak ada. Kemiskinan mencekik keluarga janda lima anak ini.
MGT hanyalah buruh serabutan. Demi meringankan beban, YBS tinggal terpisah bersama neneknya. Mereka menghuni pondok tua dan hidup serba kekurangan.
RD Leonardus Mali, Dosen Universitas Katolik Widya Mandira, menyoroti fenomena ini, Selasa (3/2/2026). Kemiskinan ekstrem membunuh imajinasi anak untuk bahagia.
Menurutnya, anak-anak miskin ini kehilangan tujuan hidup. Mereka lalu mengakses media sosial tanpa saringan. Akhirnya, mereka meniru jalan pintas yang fatal tersebut.
Anggota DPR asal NTT, Andreas Hugo Pareira, turut bersuara. Peristiwa ini menampar kesadaran masyarakat luas. Kita gagal memberikan kasih sayang dan perhatian.
Saat elit sibuk menumpuk harta, ada anak bangsa meregang nyawa. YBS pergi membawa pesan pahit tentang ketidakadilan. (*)




