### Diduga Putus Asa Usai Dinasihati Sang Ibu

PUSARA TERAKHIR YBS : Suasana haru menyelimuti makam Yohanes Bastian Raja (YBS) di Kabupaten Ngada, NTT, Rabu (4/2/2026). Di balik gundukan tanah dan pagar bambu sederhana inilah, bocah 10 tahun itu kini beristirahat tenang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam dan pesan sunyi tentang rapuhnya hati seorang anak yang merindukan kasih sayang.
TRANSPARANN.ID, NGADA – Kabar duka menyayat hati datang dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang bocah Sekolah Dasar (SD) berinisial YRB (10) memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Peristiwa memilukan ini menyisakan tanya besar bagi keluarga dan kepolisian.
BACA JUGA : https://transparann.id/surat-terakhir-bocah-ngada-tidak-punya-buku-dan-pena/
YBS putus asa hanya karena tak memiliki buku dan pena. Harga perlengkapan itu tak lebih dari Rp10.000. Nilai itu setara satu porsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, bagi YBS, nominal itu adalah nyawanya.
Also Read
Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, menegaskan pihaknya terus menyelidiki penyebab kematian korban. Polisi kini memburu kepastian motif di balik tindakan nekat tersebut. Penyidik telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk guru di sekolah korban.
“Kami memeriksa pihak sekolah untuk mengungkap dugaan perundungan. Kami ingin memastikan apakah anak ini menjadi korban bullying,” tegas Andrey, Rabu (4/2/2026).
Namun, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan fakta lain. Polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh mungil YRB. Dugaan awal mengarah pada keputusan tragis akibat rasa putus asa.
Nasihat Berujung Duka
Kapolres Andrey meluruskan simpang siur mengenai pemicu kejadian. Ia membantah motif bunuh diri hanya karena permintaan alat tulis. Fakta lapangan mengungkap pemicu utamanya adalah kesalahpahaman saat menerima nasihat.

Surat terakhir bocah SD yang bunuh diri untuk ibunya, karena masalah ekonomi.
Ibu korban, MGT (47), sempat menasihati putranya sebelum kejadian. Sang ibu meminta YRB rajin bersekolah dan berhenti mandi hujan. YRB memang sering absen sekolah dalam seminggu terakhir karena sakit.
“Korban mungkin merasa tersinggung saat menerima nasihat ibunya. Jadi, ini bukan semata-mata soal alat tulis,” jelas Andrey.
Penyidik pun menutup kemungkinan adanya bullying di sekolah. Kasus ini kini ditetapkan sebagai tindakan bunuh diri akibat keputusasaan.
Hidup dalam Kekurangan
Kisah hidup YRB menyimpan kepedihan mendalam. Gregorius Kodo, seorang saksi mata, menuturkan betapa berat beban hidup bocah malang itu. YRB tumbuh tanpa pernah melihat wajah ayahnya.
Sang ayah meninggal dunia saat YRB masih dalam kandungan. Ibunya harus berjuang sendirian menafkahi lima orang anak. Himpitan ekonomi membuat YRB memilih tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana.
Sebelum gantung diri, YRB sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena. Sayangnya, ibunya tak mampu memenuhi permintaan itu karena tidak memiliki uang. Tak lama berselang, YRB ditemukan tak bernyawa saat neneknya sedang berada di rumah tetangga.
Polisi memastikan kondisi ekonomi keluarga korban memang sangat memprihatinkan. Ketiadaan figur ayah turut memengaruhi kondisi psikologis anak tersebut.
Kini, YRB telah pergi membawa luka batinnya selamanya. (*)













