Mengenal Rondahaim Saragih Dianugerahi Pahlawan Nasional

Untuk menandingi prajurit Belanda yang menggunakan persenjataan modern dan memiliki pasukan kuat, Rondahaim menggembleng pasukannya dalam pelatihan militer. Tujuannya, agar pasukan tersebut mampu mengimbangi pertempuran meskipun tak memiliki persenjataan setara.

Rondahaim juga mendatangkan pejuang-pejuang dari Tanah Gayo, Alasa, dan Aceh ke Simalungun untuk membantu pelatihan pasukan. Ia bahkan mengundang tokoh pejuang rakyat lain, seperti Teuku Muhammad dari Aceh dan Sisingamangaraja ke-XII, guna membahas strategi peperangan.

Rondhaim terkenal cerdas dalam strategi pertempuran. Ia memperkuat upaya ini dengan membangun kerjasama selama pertempuran dengan kerajaan lain di luar wilayah Simalungun. Tujuannya adalah mengusir Belanda dari wilayah pesisir Sumatera Timur.

Kecakapan dan kekuatan yang Rondahaim dan pasukannya miliki membuat Belanda mundur dari wilayah Simalungun. Rondahaim berhasil mempertahankan wilayah tersebut hingga menghembuskan napas terakhir pada 1891.

Perjuangan dan ketangguhan inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengusulkan namanya sebagai calon pahlawan nasional. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berpendapat bahwa perjuangan Rondahaim layak dikenang dan diapresiasi tinggi oleh pemerintah melalui pemberian gelar pahlawan nasional kepada figur yang telah mempertahankan wilayah Indonesia dari penjajahan.

Sebelumnya, Rondahaim telah menerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden B.J. Habibie pada 13 Agustus 1999, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 077/TK/Tahun 1999. Kemudian, ia secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada November 2025.

Selain Rondahaim, Prabowo juga menetapkan nama Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, aktivis buruh Marsinah, mantan Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja, serta penggerak pendidikan dan emansipasi perempuan Rahmah El Yunusiyyah sebagai pahlawan nasional. Tokoh lain yang ditetapkan adalah Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Sultan Zainal Abidin Syah, mantan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat Sarwo Edhie Wibowo, dan mantan Presiden Soeharto. (*)

Exit mobile version