Lebih lanjut, Iskandar menekankan perlunya penataan ulang relasi antara pemerintah, seniman, dan penyelenggara acara. Ia menyatakan ekosistem seni yang sehat hanya bisa tumbuh melalui kejujuran dan dialog, bukan sekadar proyek berorientasi angka. “Kebudayaan kita masih sakit karena disorientasi paradigma,” pungkasnya.

Di sisi lain, pembatalan konser juga dipicu oleh ancaman yang diterima panitia. Event konsultan sekaligus penyelenggara, Steffy Burase, mengaku menerima ancaman dari ormas sejak dua pekan sebelum acara. “Kalau tidak melakukan beberapa hal, akan ada ormas yang datang mengacau acara ini. Itu fakta,” ujar Steffy di Banda Aceh, Sabtu (25/10/2025).
Menanggapi hal itu, Steffy memutuskan menunda konser demi keamanan seluruh pihak. Meski mengalami kerugian materiil, ia memilih tidak menempuh jalur hukum. “Bagi kami, cukup masyarakat tahu apa yang sebenarnya terjadi. Percuma kalau dikasuskan, hanya menghabiskan energi,” katanya.
Sebelumnya, Iskandar juga mengingatkan bahwa tidak semua pembatalan konser semata-mata kesalahan ormas. Menurutnya, dalam beberapa kasus, ketidaksiapan panitia dalam pengurusan izin dan komunikasi publik menjadi akar masalah. “Jika ini tidak dievaluasi, kerenggangan antara masyarakat dan pelaku seni justru akan makin melebar,” tegas Iskandar.
Dengan demikian, insiden ini membuka ruang evaluasi bersama bagi semua pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem seni Aceh yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan. (*)












