Ahmad Yani menikahi Bandiah, mantan guru mengetiknya, pada 1944 ketika ia masih bertugas sebagai tentara PETA dan juru bahasa. Dari pernikahan itu, pasangan ini membesarkan delapan anak yang menjadi saksi keteladanan hidup mereka.
Meski berasal dari keluarga berada, Ahmad Yani memilih hidup sederhana bersama istri dan anak-anaknya di kompleks perumahan tentara di Magelang, Jawa Tengah. Kehidupan rumah tangga mereka penuh kasih, meski Bandiah kerap dilanda cemas setiap kali sang suami bertugas keluar kota tanpa kabar.
Di masa itu, belum ada sarana komunikasi mudah. Rasa cemas yang berulang kali muncul sempat membuat Ahmad Yani merasa risih, tetapi ia tetap memahami perasaan keluarganya. Ia tidak pernah lalai menjalankan peran sebagai suami dan ayah, selalu hadir penuh kasih dan tanggung jawab.
Cinta Ahmad Yani kepada Bandiah Yayu Rulia tetap terjaga hingga akhir hayat. Ia gugur pada malam 30 September 1965 dalam tragedi kelam G30S, meninggalkan teladan tentang kesetiaan dan kasih sayang seorang prajurit kepada keluarganya.
Kisah cinta mereka mengajarkan bahwa di balik kegagahan seorang jenderal, tersimpan kelembutan hati seorang ayah dan suami yang mencintai keluarganya sepenuh jiwa. (*)
