Duka Menyelimuti Program MBG di Ketapang

foto : source ocsya ade chintawa putra.
MEMBLUDAK : Suasana di dalam Puskesmas Marau yang dipadati pasien korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (6/2/2026). Ratusan siswa dan warga terpaksa dirawat di lorong dengan alas seadanya karena kapasitas ruang perawatan yang sudah tidak memadai.

Dapur penyedia membuat adonan pada Selasa malam pukul 19.00 WIB. Namun, mereka baru mengolahnya pada Rabu dini hari pukul 02.00 WIB.

Jeda waktu yang panjang ini berpotensi memicu pertumbuhan bakteri berbahaya. Kini, sampel makanan sedang menjalani uji laboratorium untuk kepastian hukum.

Siswa Menjadi Korban Utama
Kisah pilu ini menimpa generasi muda harapan bangsa. Korban berasal dari SMPN 1, SMAN 1, dan SMKN 1 Marau.

Mereka menyantap menu dari penyedia dapur yang sama pada hari Rabu. Gejala mual, muntah, dan pusing mulai menyerang secara serentak.

Baca Juga :   Delapan Orang Diamankan Dua Dikembalikan KPK

Camat Marau, Vitalis Alpha Edyson, turun langsung menenangkan warganya. Ia menjamin pemerintah kecamatan menanggung seluruh biaya perawatan.
“Keselamatan siswa adalah prioritas utama kami. Jangan ragu melapor ke fasilitas kesehatan,” imbau Vitalis.

Alarm Bahaya yang Berulang
Insiden ini menambah daftar kelam program MBG di Kalimantan Barat. Kasus serupa pernah terjadi di Pontianak, Kayong Utara, hingga Sanggau.

Namun, penegakan hukum terhadap penyedia makanan yang lalai masih menjadi tanda tanya besar. Publik menanti ketegasan aparat agar kejadian ini tidak terulang.

Baca Juga :   Skandal Limbah Busuk Dapur MBG

Pengamat Sosial Universitas Tanjungpura, Syarif Usmulyadi, menyayangkan lambatnya proses hukum dalam kasus MBG.
“Aparat harus tegas. Jangan sampai ada perlakuan berbeda bagi pengelola katering program ini,” kritik Syarif.

Kita semua berharap, tragedi Marau menjadi pelajaran terakhir. Kesehatan anak bangsa tidak boleh tergadai oleh kelalaian segelintir pihak. (*)