Sebagai bukti, Nanik mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto turun tangan langsung menghitung kelayakan anggaran. “Pak Prabowo sampai menghitung sendiri menu itu, dan beliau berkesimpulan dengan Rp 10.000 itu masih bisa pakai ayam dan telur,” ujarnya. Oleh karena itu, ia meminta semua pihak memastikan tidak ada pengurangan bahan baku.
Namun sayangnya, Nanik menyoroti fakta memilukan di lapangan. “Dari Kuningan sampai NTB, saya sudah melihat beberapa dapur yang tidak layak,” tuturnya. Ia pun mengaku kecewa karena banyak dapur yang beroperasi padahal belum melalui proses evaluasi (epoksi) yang semestinya.
Menanggapi kondisi ini, Nanik menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif. “Kita harus akui ini kelalaian kita bersama. Ini salah BGN, mitra, dan SPPG yang harus kita perbaiki bersama,” katanya. Untuk kedepannya, ia berpesan agar semua unsur saling mengingatkan, termasuk melibatkan ahli gizi dan akuntan, untuk mengawal kualitas menu.
Di akhir paparannya, Nanik membagikan cerita inspiratif di balik lahirnya program MBG. Kisah ini berawal dari tahun 2012, ketika Prabowo melihat langsung keprihatinan seorang ibu yang memberi makan anaknya dengan sisa makanan buruh pabrik. “Di sana Pak Prabowo merasa geram dan bilang: ‘Saat saya menjadi Presiden nanti, semua anak Indonesia akan saya beri makan tiap hari.’ Itulah asal mula kenapa MBG dimulai,” pungkas Nanik, mengingatkan kembali pada semangat awal yang humanis dari program ini. (*)












