Soetanti Aidit: Ningrat Jawa, Istri PKI, Ahli Akupuntur

Pada 1958–1960, Soetanti menempuh studi radiologi di Uni Soviet dengan beasiswa. Sepulangnya, ia mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan membuka praktik di RS Cipto Mangunkusumo serta Poliklinik Rakyat PKI. Ia kemudian memperdalam akupuntur di Pyongyang, Korea Utara, sekaligus membesarkan anak-anaknya bersama Aidit.

Namun, tragedi G30S 1965 mengubah hidupnya. Sebagai istri Aidit, ia menanggung stigma berat dan mendekam di penjara selama 14 tahun. Ia berpindah dari tahanan Kodim 66 hingga Penjara Bukit Duri sebelum bebas pada 1980.

Baca Juga :   Keberanian Istri Nasution di Malam G30S

Kisah getir itu bermula pada malam 30 September 1965. Soetanti sempat memohon agar Aidit tidak pergi bersama “penjemput” yang datang, tetapi Aidit bersikeras. Sejak itu, ia tak pernah kembali. Tiga hari kemudian, Soetanti meninggalkan rumah dan anak-anaknya untuk menyusul Aidit ke Boyolali. Ia menyamar bersama Bupati Boyolali sebagai pasangan suami istri, namun penyamaran itu terbongkar dan ia ditangkap.

Setelah bebas, Soetanti mencoba membangun hidup baru dengan membuka praktik dokter. Namun kondisi tubuhnya yang rapuh membuatnya sakit-sakitan hingga wafat pada 1991.

Baca Juga :   Pidato Terakhir DN Aidit Sebelum Dieksekusi

Kisah Soetanti Aidit bukan sekadar catatan politik, melainkan potret perempuan yang berdiri di persimpangan sejarah: seorang bangsawan Jawa, istri Ketua PKI, sekaligus pelopor akupuntur di Indonesia. (*)