### Akhir tragis tokoh utama PKI 1965

Dipa Nusantara Aidit.
TRANSPARANN.ID – Pasca meletusnya Gerakan 30 September 1965, situasi politik Indonesia berubah drastis. DN Aidit, Ketua CC PKI sekaligus tokoh paling berpengaruh partai tersebut, menjadi buronan utama militer di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto.
Pada 2 Oktober 1965 dini hari, Aidit melarikan diri dari Jakarta ke Yogyakarta menggunakan pesawat Dakota T-443. Ia berusaha menyusun kekuatan PKI di Jawa Tengah dan membentuk pemerintahan darurat lewat Dewan Revolusi. Di Yogyakarta, Aidit bertemu dengan Nyoto, Sudisman, dan Njoto, namun mendapati partainya terpecah menjadi kubu radikal dan moderat.
Also Read
Aidit kemudian berkeliling Jawa Tengah hingga Jawa Timur untuk menyatukan kembali PKI. Sementara itu, Soeharto menuding PKI sebagai dalang G30S dan mengerahkan operasi militer besar-besaran. Kolonel Yasir Hadibroto memimpin perburuan Aidit.
Setelah hampir dua bulan bersembunyi, militer menangkap Aidit pada 22 November 1965 di rumah Harjomartono, Kampung Sambeng, Solo. Pasukan membawanya ke Markas Brigif IV Loji Gandrung untuk diinterogasi. Aidit mengakui perannya dalam G30S/PKI dan meminta bertemu Presiden Soekarno, tetapi permintaan itu ditolak.
Rencana awalnya, militer akan membawa Aidit ke Markas Kodam Diponegoro di Semarang. Namun, Yasir mengalihkan perjalanan ke Boyolali, tepatnya ke Markas Batalyon 444. Di belakang rumah komandan batalyon Mayor Trisno, berdiri sebuah sumur tua yang menjadi saksi bisu akhir hidup Aidit.
Sebelum eksekusi, Aidit menyampaikan pidato terakhir. Dengan suara lantang, ia mengutuk Soeharto dan Nasution sebagai pengkhianat revolusi. Kalimat terakhirnya adalah teriakan: “Hidup PKI!”. Seketika itu, pasukan menembaknya dan memasukkan jasadnya ke dalam sumur tua.
Peristiwa ini menandai akhir tragis DN Aidit sekaligus simbol tumbangnya PKI pasca tragedi G30S. (*)















