Rahmah El Yunusiyah, Syekhah Pejuang Pendidikan Perempuan

Pada 1 November 1923, Rahma mendirikan Madrasah Diniyah Li al-Banat, sekolah khusus untuk perempuan yang merupakan lanjutan dari Diniyah School milik kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy, yang berdiri sejak 10 Oktober 1915.

Meski menghadapi berbagai rintangan, termasuk kematian kakaknya pada 1924 dan gempa besar yang mengguncang Sumatera Barat pada 1926, Rahma tidak menyerah. Ia memperluas wawasan dengan melakukan studi banding ke Pinang, Terengganu, Johor, Negeri Sembilan, Selangor, Perak, Pahang, Kelantan, hingga Kedah.

foto : http://X/@KHSubktkn

Perjuangannya kemudian melahirkan Kulliyatul Muallimat al-Islamiyyah (KMI), sekolah pendidikan guru yang berdiri pada 1 Februari 1937.

Pada masa pendudukan Jepang, Rahma memimpin Haha No Kai di Padangpanjang dan membantu perwira Giyugun. Ia juga berperan dalam pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padangpanjang selama perang kemerdekaan.

Selain itu, Rahma menggerakkan para muridnya untuk membantu perjuangan meski hanya berbekal penyediaan makanan dan obat-obatan. Ia sempat ditangkap dan ditahan Belanda pada Januari 1949.

Perjuangannya berlanjut hingga ia terpilih menjadi anggota DPR dari Partai Masyumi pada Pemilu 1955. Pada 1961, ia kembali tertangkap karena mendukung pemerintahan PRRI. Beruntung, Presiden Soekarno mengampuninya.

Rahma kemudian mengidap kanker payudara, hingga akhirnya wafat pada 26 Februari 1969 di usia 71 tahun. Dedikasinya yang besar, terutama dalam pendidikan perempuan, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia.

Dengan penetapan sebagai Pahlawan Nasional, bangsa ini kembali menegaskan besarnya peran Rahma El Yunusiah dalam membangun pendidikan dan perjuangan bagi kaum perempuan serta negara. (*)

Exit mobile version