Bagindo Togar Kritik Politik Uang

### Pilkada Sumsel Demokrasi Masih Primitif

TRANSPARANN.ID – Lebih dari dua dekade, Indonesia menjalankan sistem pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung. Sejak pertama kali digelar pada 2004, Pilkada diharapkan melahirkan pemimpin berintegritas dan memperkuat demokrasi lokal. Namun, di Sumatera Selatan, pengamat politik Bagindo Togar menegaskan kenyataan masih jauh dari harapan.

Bagindo menilai demokrasi di Sumsel masih terjebak dalam praktik transaksional. Ia menyoroti lemahnya kualitas penyelenggara pemilu dan rendahnya literasi politik masyarakat, terutama di kalangan muda.

Baca Juga :   Mundur Bupati Andar Amin Nyaleg, Massa Minta ASN Paluta Netral

“Kalau kita bicara 21 tahun Pilkada, hasilnya di Sumsel belum banyak berubah. Demokrasi kita masih sangat primitif,” ujarnya melalui sambungan telepon, Rabu (05/11/2025).

Ia menekankan bahwa Pilkada Serentak 2024 kembali memperlihatkan budaya politik uang yang sulit dihapuskan. “Politik uang itu ibarat penyedap rasa. Sulit dihilangkan, tapi jangan sampai membuat rakyat kehilangan akal sehat,” katanya.

Bagindo melihat generasi Z dan milenial kini menjadi pemilih dominan. Namun, ia mengingatkan bahwa kelompok ini paling rentan terhadap informasi palsu di media sosial. “Gen Z dan milenial adalah kekuatan baru politik. Tapi mereka juga paling mudah terpengaruh hoaks,” jelasnya.

Baca Juga :   Jadwal Paripurna Molor, Paripurna DPRD Kabupaten OKU, Mendapatkan Pengamanan

Menurutnya, media digital memang menjadi sarana kampanye paling murah dan efektif. Tetapi, algoritma bisa menyesatkan jika literasi digital masyarakat rendah. “Pemerintah aktif menangkal hoaks, tapi efek algoritma lebih berbahaya. Yang salah bisa tampak benar, yang benar bisa terlihat salah,” ungkapnya.