
Surat terakhir bocah SD yang bunuh diri untuk ibunya, karena masalah ekonomi.
Ibu korban, MGT (47), sempat menasihati putranya sebelum kejadian. Sang ibu meminta YRB rajin bersekolah dan berhenti mandi hujan. YRB memang sering absen sekolah dalam seminggu terakhir karena sakit.
“Korban mungkin merasa tersinggung saat menerima nasihat ibunya. Jadi, ini bukan semata-mata soal alat tulis,” jelas Andrey.
Penyidik pun menutup kemungkinan adanya bullying di sekolah. Kasus ini kini ditetapkan sebagai tindakan bunuh diri akibat keputusasaan.
Hidup dalam Kekurangan
Kisah hidup YRB menyimpan kepedihan mendalam. Gregorius Kodo, seorang saksi mata, menuturkan betapa berat beban hidup bocah malang itu. YRB tumbuh tanpa pernah melihat wajah ayahnya.
Sang ayah meninggal dunia saat YRB masih dalam kandungan. Ibunya harus berjuang sendirian menafkahi lima orang anak. Himpitan ekonomi membuat YRB memilih tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana.
Sebelum gantung diri, YRB sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena. Sayangnya, ibunya tak mampu memenuhi permintaan itu karena tidak memiliki uang. Tak lama berselang, YRB ditemukan tak bernyawa saat neneknya sedang berada di rumah tetangga.
Polisi memastikan kondisi ekonomi keluarga korban memang sangat memprihatinkan. Ketiadaan figur ayah turut memengaruhi kondisi psikologis anak tersebut.
Kini, YRB telah pergi membawa luka batinnya selamanya. (*)




