BMKG Stasiun Kertajati masih mengumpulkan data awal. Kepala Tim Kerja Prakiraan, Data, dan Informasi BMKG Kertajati, Muhammad Syifaul Fuad, menjelaskan dentuman bisa muncul akibat petir, gempa, atau longsor. Namun, ia menegaskan kondisi cuaca saat kejadian cerah berawan tanpa indikasi awan konvektif.
BMKG menegaskan tidak memiliki kewenangan mendeteksi benda langit. Peneliti astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, menilai bola api yang viral di media sosial memang berasal dari meteor cukup besar. Ia menyimpulkan meteor itu melintas dari arah barat daya sekitar pukul 18.35–18.39 WIB, sebelum akhirnya jatuh di Laut Jawa. “Dentuman terdengar karena meteor memasuki atmosfer rendah dan menimbulkan gelombang kejut,” jelasnya.
Tim BPBD masih menelusuri dampak peristiwa tersebut, termasuk kemungkinan kerusakan di wilayah Cirebon dan sekitarnya. (lin)












