Emosi wali murid tak terbendung. Mereka mencecar Dora dengan nada tinggi terkait transparansi dana.
“Kami menanyakan uang Rp 700 ribu itu. Anak kami belum menerima haknya sampai sekarang,” tegas Khairul Sani, salah satu wali murid.
Khairul juga menuntut kejelasan pemotongan dana PIP. Sekolah diduga menyunat bantuan tersebut sebesar Rp 25 ribu per siswa.
“Kami ingin hak anak segera diberikan agar seragam. Jangan sampai ada perundungan karena beda seragam,” tambah Khairul.
Dalih Kepala Sekolah
Sementara itu, Dora menepis tuduhan penyelewengan dana Rp 700 ribu. Ia mengklaim uang tersebut digunakan untuk membeli seluruh peralatan sekolah.
Namun, ia gagap saat ditanya rincian harga atribut. Dora mengaku tidak memegang data harga foto rapor yang mencapai Rp 170 ribu.
“Saya sedang tidak pegang datanya. Setahu saya foto itu cuma Rp 40 ribu,” kelit Dora.
Dora juga tak berkutik soal atribut dasi dan topi. Padahal, Pemkab OKU sudah memberikan item tersebut secara gratis. Dora tidak bisa menjelaskan alasan penarikan biaya tambahan tersebut.
Terkait pemotongan PIP, Dora akhirnya mengakui adanya penyunatan dana. Namun, ia melempar kesalahan kepada staf yang sudah pindah tugas.
“Memang ada pemotongan. Tapi pelakunya sudah pindah. Saya sedang cari siapa lagi yang memotong,” tandas Dora.
Mengenai seragam yang belum dibagi, Dora beralasan ukuran baju tidak pas. Menurutnya, seragam tersebut harus dijahit ulang. (*)












