Di sini, pengunjung bisa bermain congklak, lompat tali, dan jembatan melayang. Selain itu, warga juga membangun Kampung Edukasi Lalu Lintas.
Fasilitas ini berdiri pada 2016 untuk mengedukasi anak-anak tentang aturan. Terdapat miniatur rambu lalu lintas pada sepanjang jalur mini.
Legenda Keraton Surakarta
Cerita desa ini juga kental dengan legenda Keraton Surakarta. Suatu hari, Raja Keraton Surakarta berkunjung ke Umbul Kemanten. Sang Raja ingin menjodohkan cucunya dengan Purbontani.
Mendengar kabar itu, warga pun penasaran dan bertanya-tanya.
“Nama Sidowayah itu berasal dari gabungan kata sida dan wayah,” cerita sesepuh desa.
Kata sida berarti jadi, sedangkan wayah berarti cucu. Purbontani kemudian mengikuti sayembara membawa lumpang ke area keraton. Ia berhasil menang dan akhirnya menikahi sang putri.
Kisah Unik Sumpil Buntung
Umbul Kemanten rupanya menyimpan kisah unik bernama Sumpil Buntung. Sumpil adalah siput kecil yang hidup di dasar umbul. Konon, Raja Keraton mengutuk ujung cangkang siput ini menjadi tumpul.
Kutukan ini jatuh karena kaki putri raja berdarah menginjak sumpil. Hingga kini, kamu masih bisa menemukan sumpil tumpul tersebut. Hal ini tentu menjadi daya tarik unik bagi para wisatawan.
Peninggalan Makam Si Kembang
Selain wisata air, kamu bisa mengunjungi Makam Si Kembang. Masyarakat meyakini dua cerita berbeda mengenai situs bersejarah ini. Cerita pertama menyebut Si Kembang adalah nama macan peliharaan.
Macan tersebut adalah milik Paku Alam VIII Yogyakarta. Oleh karena itu, warga sering mengadakan tahlil tiap 15 Ruwah. Sedangkan cerita kedua menyebut Si Kembang adalah seekor kuda. Kuda ini merupakan peliharaan kesayangan Pangeran Sido Topo.
Kesenian Tradisional yang Hidup
Sebagai desa wisata, Sidowayah terus melestarikan aneka kesenian tradisional. Mereka memiliki tiga potensi kesenian utama yang sangat aktif. Pertama, seni karawitan di Dukuh Janjir sangat populer bagi pemuda.
Kedua, warga rutin berlatih seni hadrah di masjid setempat. Ketiga, anak-anak desa sangat asyik memainkan seni kentongan. Mereka mampu menciptakan harmoni musik khas dari alat sederhana ini. (*)












