Mahmoud kemudian menunjukkan deretan makam kuno.
“Ini tujuh makam pemuda Ashabul Kahfi,” ucapnya.
Ia juga menunjuk simbol bintang bersudut delapan. Simbol tersebut ternyata memiliki makna khusus. Berdasarkan tafsir, delapan melambangkan jumlah mereka keseluruhan. Tujuh pemuda beristirahat di dalam gua. Sementara itu, seekor anjing menjaga di luar.
Cahaya matahari masuk melalui sebuah lubang gua. Sinar itu menyinari ruangan saat waktu zuhur. Posisi ini sangat selaras dengan ayat Al-Qur’an.
Gua tersebut ternyata terbentuk secara alami. Salahuddin Al-Ayubi pernah merenovasi tempat suci ini. Pengunjung juga bisa melihat sebuah masjid kuno.
Masjid era Romawi itu berdiri di luar. Masyarakat membangun tempat ibadah di atas lokasi. Nama Ar-Raqim sendiri tercatat dalam Surah Al-Kahfi.
Banyak ulama meyakini keabsahan situs Kahf ar-Raqim. Arah cahaya matahari menjadi sebuah bukti kuat. Akan tetapi, klaim serupa juga muncul di Turki. Sejarawan belum menyepakati lokasi pastinya hingga kini.
Meskipun begitu, perdebatan sejarah tidak menyurutkan niat peziarah. Mereka tetap berdatangan selama momen bulan Ramadan.
Mereka merenungi keteguhan iman para pemuda tersebut. Kisah Ashabul Kahfi akan terus hidup. Cerita ini mengingatkan kita tentang besarnya perlindungan Yang Maha Kuasa. (*)












