Riset: Gangguan Kognitif Ancam Remaja Indonesia

### Fungsi Eksekutif Otak Belum Optimal, Ini Dampaknya

foto : ilustrasi
CANDU DIGITAL : Cahaya layar gawai menyinari wajah seorang remaja yang mengabaikan lingkungan sekitarnya. Riset PDSKJI mengungkap bahwa penggunaan gawai tanpa kendali menghambat perkembangan otak depan anak dan memicu masalah kesehatan jiwa.

TRANSPARANN.ID – Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menemukan gangguan fungsi kognitif pada remaja Indonesia. Temuan ini sejalan dengan meningkatnya angka kecemasan, depresi, dan disregulasi emosi di kalangan mereka.

Anggota Bidang Humas Pengurus Pusat PDSKJI dr. Zulvia Oktanida Syairf, Sp.KJ memaparkan hasil riset terkini. “Kami melihat adanya hendaya atau gangguan pada fungsi kognitif remaja,” ungkapnya di kantor Google Indonesia, Jakarta Selatan.

Tim peneliti menguji daya pikir, memori, konsentrasi, dan kemampuan pengambilan keputusan partisipan. Hasilnya, seluruh aspek tersebut berada pada tingkat rendah. Pengendalian impuls remaja Indonesia juga belum berkembang optimal.

Baca Juga :   Mengenal Speech Delay pada Anak

Pada fase remaja, otak masih berkembang belum sempurna. Kondisi ini menyebabkan penurunan kognitif yang memicu berbagai masalah perilaku.

“Agresivitas meningkat, aksi perundungan merebak, dan impulsivitas tinggi,” jelas dr. Vivi. Ketidakmampuan meregulasi emosi menjadi akar persoalan tersebut.

Akibatnya, remaja kian rentan mengalami kecemasan dan depresi. Situasi ini mendorong mereka lebih terbuka mengakses layanan kesehatan mental.

Mantan Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D mengungkapkan data pemeriksaan kesehatan jiwa gratis. Dari 20 juta jiwa yang diperiksa, lebih dari dua juta anak mengalami gangguan kesehatan mental.

Baca Juga :   Performa Gemilang Tim Indonesia PMSL SEA 2025

Menanggapi temuan tersebut, PDSKJI menekankan pentingnya penguatan fungsi eksekutif anak. Langkah ini krusial mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045.

Ketua Bidang Pendidikan PP PDSKJI Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, Sp.KJ(K), MARS menjelaskan fungsi eksekutif sebagai pusat kendali otak. Kemampuan ini menentukan pengaturan diri, berpikir fleksibel, dan pengambilan keputusan bijak.

“Gangguan fungsi ini bukan sekadar masalah perilaku,” tegas dr. Suzy. “Ini persoalan biologis otak yang harus ditangani secara ilmiah.”

Penyebab Gangguan Kognitif pada Remaja

Baca Juga :   Paparan Perokok Sekunder Picu Kanker Laring

Era digital mempercepat proses belajar sekaligus disfungsi otak. Penggunaan gawai tanpa kendali membuat anak kehilangan waktu.

Dr. Suzy menjelaskan paparan gadget berlebihan menghambat perkembangan area otak depan. Perundungan daring dan tekanan sosial tinggi memperparah kondisi tersebut.

Prefrontal cortex sebagai pusat fungsi eksekutif tidak berkembang optimal. Akibatnya, anak dan remaja lebih mudah stres dan marah.

“Mereka sulit fokus dan kehilangan arah tujuan hidup,” ujar dia. “Ini kondisi biologis yang harus diintervensi lebih awal.”