Riset: Gangguan Kognitif Ancam Remaja Indonesia

Hasil Riset Nasional PDSKJI

PDSKJI melakukan riset nasional terhadap 624 remaja usia 13-24 tahun. Peneliti menggunakan Alat Ukur Fungsi Eksekutif Indonesia (AUFEI) di berbagai wilayah.

AUFEI dikembangkan sesuai konteks budaya Indonesia. Alat ukur ini mencakup lima domain utama fungsi eksekutif.

Hasilnya, 507 remaja belum berkembang optimal secara fungsi eksekutif. Sementara itu, 117 remaja lainnya telah berkembang dengan baik.

Sebanyak 39,8 persen partisipan memiliki working memory belum berkembang. Kondisi ini menyebabkan fokus mudah terpecah dan sulit menimbang konsekuensi tindakan.

Baca Juga :   Nonton Agak Laen, Ompu Luhut Kaget Namanya Disebut

Pada domain inhibitory control, sekitar 32,7 persen remaja kesulitan menahan impuls. Hal ini menjelaskan mengapa banyak remaja mudah tersulut emosi dan bertindak tanpa berpikir panjang.

Domain cognitive flexibility menunjukkan 38 persen remaja berkembang baik. Namun, kemampuan beradaptasi ini belum diimbangi kematangan dalam planning and organization.

Sebanyak 65,5 persen remaja masih pada tahap mulai berkembang dalam perencanaan. Mereka tahu kesalahan, tetapi belum mampu menyusun langkah perbaikan.

Kemudian, 55,4 persen remaja menunjukkan spiritual functioning belum matang. Nilai hidup dan batas moral belum terbentuk kuat menghadapi tekanan sosial.

Baca Juga :   Cek Kesehatan Gratis Bersama SATUSEHAT Mobile

Riset juga menemukan korelasi kuat gangguan fungsi eksekutif dengan berbagai masalah. Depresi, perilaku impulsif, dan penurunan motivasi belajar meningkat drastis. Kecenderungan pada perundungan dan adiksi digital juga menguat.

Langkah Intervensi yang Diperlukan

Dr. Suzy merekomendasikan intervensi melibatkan sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan. Pembuat kebijakan juga harus berperan aktif dalam solusi jangka panjang.

Sekolah perlu melakukan skrining rutin fungsi eksekutif siswa. Pemeriksaan kesehatan mental berkala dapat mendeteksi masalah lebih dini.

Guru dan orangtua harus mengenali tanda awal kesulitan regulasi emosi. Perubahan perilaku anak perlu direspons cepat dan tepat.

Baca Juga :   Solusi Sehat untuk Makanan Lebih Tahan Lama

Akses mudah ke layanan kesehatan jiwa menjadi kebutuhan mendesak. Konsultasi dengan psikiater dan psikolog klinis harus tersedia luas.

“Kita tidak bisa membiarkan generasi muda tumbuh dengan otak yang tidak siap. Intervensi dini adalah kunci menyelamatkan masa depan mereka,” pungkas dr. Suzy. (*)