Ia justru mengeluh merugi besar alias “buntung” dalam proyek ini. Yunefri mengklaim kerugian sewa alat berat mencapai Rp 100 juta. Durasi kerja molor dari 7 hari menjadi 45 hari.
“Sewa alat itu Rp 300 ribu per jam,” keluh Yunefri merinci kerugiannya. Ia seolah ingin publik memaklumi kegagalan manajerial tersebut.
Berdalih Selamatkan Anggaran
Yunefri juga membela diri terkait temuan material “beskos” di lokasi. Publik menuding material itu menyalahi spesifikasi Agregat B. Namun, ia menyebut tanah dasar terlalu labil dan berlumpur.
Ia menolak menghamparkan Agregat B murni di atas lumpur. Menurutnya, tindakan itu konyol dan hanya akan membuang material mahal. Beskos sengaja dipasang sebagai pondasi dasar nanti baru dihampar LPB agregat B sehingga ketebalan mencapai 15cm
“Kami tidak mau bekerja konyol,” kilah Yunefri membela diri. Ia mengklaim jalan akan hancur menjadi bubur jika memaksakan spesifikasi.
Pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas PU terkait strategi ini. Yunefri bersikeras langkahnya bertujuan menyelamatkan konstruksi jalan. Ia menolak menanggung risiko teknis yang tidak masuk akal. (*)












