### Akui Jual Nama Terima Fee 2 Persen

TRANSPARANN.ID, OKU – Direktur CV Sukaraya, Yunefri, akhirnya buka kartu soal kekacauan proyek jalan Desa Gunung Meraksa. Ia secara mengejutkan mengakui praktik “jual nama” dalam tender tersebut. Yunefri membenarkan perusahaannya hanya menjadi tameng administrasi.
Ia menyebut sosok bernama Dodi berkacamatan tebal sebagai dalang operasional yang sebenarnya. Yunefri mengaku hanya meminjamkan legalitas perusahaan kepada rekannya itu. Peran aslinya hanyalah penyuplai material di lapangan.
“Dodi berkacamata tebal yang meminjam bendera perusahaan saya,” ungkap Yunefri tanpa beban. Pengakuan ini menelanjangi bobroknya sistem pengadaan barang dan jasa.
Also Read
Motif di balik praktik ini ternyata sangat sederhana. Yunefri blak-blakan menerima jatah komisi sebesar dua persen dari nilai pagu. Ia menganggap praktik makelar proyek seperti ini sebagai hal lumrah.
Alasan Klasik: Hujan dan Rugi
Terkait keterlambatan proyek, Yunefri melempar kesalahan pada alam. Ia menjadikan curah hujan tinggi dan tender akhir tahun sebagai kambing hitam. Kondisi jalan baru dibuka membuat alat berat sulit bergerak.
Ia justru mengeluh merugi besar alias “buntung” dalam proyek ini. Yunefri mengklaim kerugian sewa alat berat mencapai Rp 100 juta. Durasi kerja molor dari 7 hari menjadi 45 hari.
“Sewa alat itu Rp 300 ribu per jam,” keluh Yunefri merinci kerugiannya. Ia seolah ingin publik memaklumi kegagalan manajerial tersebut.
Berdalih Selamatkan Anggaran
Yunefri juga membela diri terkait temuan material “beskos” di lokasi. Publik menuding material itu menyalahi spesifikasi Agregat B. Namun, ia menyebut tanah dasar terlalu labil dan berlumpur.
Ia menolak menghamparkan Agregat B murni di atas lumpur. Menurutnya, tindakan itu konyol dan hanya akan membuang material mahal. Beskos sengaja dipasang sebagai pondasi dasar nanti baru dihampar LPB agregat B sehingga ketebalan mencapai 15cm
“Kami tidak mau bekerja konyol,” kilah Yunefri membela diri. Ia mengklaim jalan akan hancur menjadi bubur jika memaksakan spesifikasi.
Pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas PU terkait strategi ini. Yunefri bersikeras langkahnya bertujuan menyelamatkan konstruksi jalan. Ia menolak menanggung risiko teknis yang tidak masuk akal. (*)














