### Warga menantikan perbaikan jalan

Kondisi jalan Air Hitam, Desa Sinar Kedaton.
TRANSPARANN.ID, BATURAJA – Setiap hari, puluhan warga di Jalan Sinar Kedaton, Kecamatan Kedaton, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, harus berjibaku dengan kondisi jalan yang memprihatinkan. Mereka melintasi jalan yang berlumpur dan dipenuhi genangan air kuning itu yang seolah tak kunjung tersentuh perbaikan.
Akibatnya, kondisi ini memaksa warga untuk bersabar dan berjuang lebih keras dalam menjalani aktivitas. Sebagai contoh, seorang warga, Nora Ardhila, menyaksikan langsung suaminya yang tak kenal lelah melintasi jalan itu. “Suami saya termasuk orang yang ‘menikmati’ jalan berlumpur dan berair kuning ini,” ujarnya dengan nada prihatin, seperti dikutip portal ini dari akun Facebook pribadinya https://www.facebook.com/nora.ardhila.jhr?locale=id_ID.
Tak hanya itu, keterpurukan jalan tersebut terutama sangat terasa setiap hari Senin. Pada hari itu, warga dari desa sekitar, seperti Air Hitam, memenuhi jalan rusak ini untuk menuju pasar. Dengan semangat, para kepala keluarga, guru, dan pedagang menempuh jalan ini demi menafkahi keluarga dan mencerdaskan anak bangsa. “Banyak guru-guru yang mengabdikan waktu, tenaga, pikiran untuk anak-anak generasi penerus bangsa,” tambahnya. Bahkan, anak-anak sekolah pun harus melalui jalan yang sama untuk menuntut ilmu.
Also Read

Guru berjibaku berjuang melawan endapan lumpur.
Di sisi lain, infrastruktur jalan yang buruk langsung mempengaruhi perekonomian. Akibatnya, harga barang-barang kebutuhan pokok di wilayah terdampak membubung tinggi. Hal ini terjadi karena perjuangan para pedagang untuk mengangkut barang melalui jalan rusak tersebut sangatlah berat. Oleh karena itu, warga mulai mempertanyakan komitmen pemerintah.
“Tolong pemerintah kabupaten OKU, kami juga bagian dari OKU. Kami juga ingin merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya,” seru salah satu warga. Mereka pun mendesak para pejabat daerah untuk turun langsung ke lapangan, mendengar keluhan, dan menyaksikan sendiri perjuangan yang mereka alami.
Berkaca pada kondisi tersebut, harapan mereka sederhana: realisasi anggaran daerah untuk perbaikan infrastruktur yang dapat mereka rasakan langsung. “Bukan kah kami membayar pajak untuk negara? Bukan kah ada anggaran daerah yang seharusnya bisa kami rasakan juga?” tanya mereka. Sebagai bukti nyata, foto-foto kondisi jalan yang mereka bagikan bukanlah hoaks, melainkan bentuk permohonan agar suara mereka akhirnya didengarkan. (bet)















