### Sisi religius tokoh kontroversial PKI

DN Aidit.
TRANSPARANN.ID – Nama Dipa Nusantara (DN) Aidit kerap identik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, kisah masa kecilnya justru menyingkap sisi religius yang jarang diketahui publik.
Aidit Kecil: Anak Masjid di Belitung
Aidit menghabiskan masa kecilnya di Tanjung Pandan, Belitung. Warga mengenang dirinya sebagai anak yang peduli pada masjid. Ia sering memperbaiki genteng bocor dan memastikan rumah ibadah tetap terawat. Selain itu, Aidit juga mengumandangkan azan sebagai muazin dengan suara lantang, sehingga masyarakat mengenalnya sebagai pemuda religius.
Also Read
Remaja yang Haus Ilmu
Pada usia 16 tahun, Aidit merantau ke Jakarta. Ia berguru pada tokoh besar seperti Ali Sastroamidjojo dan HOS Cokroaminoto. Dari pergaulan itu, ia mulai mengenal berbagai aliran pemikiran, termasuk komunisme, yang kemudian memikat hatinya.
Muslim Taat di Tengah Ideologi Kiri
Meski memilih jalur politik komunis, Aidit tetap menjalankan ajaran Islam. Putranya, Ilham Aidit, menuturkan bahwa keluarga mereka berpuasa saat Ramadan, merayakan Idulfitri, dan menjalankan ibadah sesuai tuntunan agama. Aidit diyakini memahami Islam dengan baik, bahkan menguasai ajarannya.
Komunisme dan Agama: Titik Benturan
Ilham menegaskan tidak ada aturan dalam AD/ART PKI yang melarang anggotanya beragama. Tokoh PKI lain seperti Njoto dan Lukman juga dikenal taat beragama serta menjalin hubungan baik dengan tokoh Katolik. Namun, benturan muncul karena Marxisme menekankan teori ekonomi, sementara agamawan menekankan ketaatan ibadah. Perbedaan inilah yang melahirkan anggapan bahwa “komunis itu ateis.”
Warisan Penuh Kontradiksi
Aidit meninggalkan warisan penuh paradoks: seorang muazin muda yang religius sekaligus pemimpin partai komunis terbesar di Asia Tenggara. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah sederhana. Ia hidup di persimpangan antara agama yang ia anut dengan taat dan ideologi yang ia perjuangkan hingga akhir hayat. (*)















