### Perjalanan Gus Dur dari Ulama hingga Presiden RI

Keluarga Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ketika mewakili penerimaan penghargaan Pahlawan Nasional dari Presiden Prabowo, di Istana Merdeka, Senin, 10 November 2025.
TRANSPARANN.ID – Indonesia akhirnya mengukuhkan almarhum Gus Dur, atau Abdurrahman Wahid, sebagai Pahlawan Nasional. Presiden Prabowo Subianto menyematkan gelar ini secara resmi pada Senin (10/11/2025). Pemerintah menetapkan Presiden ke-4 Republik Indonesia ini sebagai pahlawan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 yang mereka tandatangani di Jakarta pada 6 November 2025. Gelar pahlawan ini menghormati perjuangan politik dan pendidikan Islam yang Gus Dur lahirkan dari Jawa Timur.
Kita semua mengenal nama beliau sebagai tokoh bangsa yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.
“Kami menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada mereka yang namanya tersebut dalam lampiran keputusan ini sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi, atas jasa-jasanya yang luar biasa, untuk kepentingan mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa,” demikian bunyi kutipan Keppres tersebut. Narator Istana menggarisbawahi bahwa semasa hidupnya, Gus Dur juga memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Tanah Air.
Lantas, bagaimana perjalanan seorang Abdurrahman Wahid hingga memimpin negeri ini dan menerima gelar pahlawan nasional pada 2025? Berikut rangkuman perjalanannya:
Masa Kecil dan Perkembangan Intelektual
Gus Dur lahir di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940, sebagai putra sulung dari enam bersaudara. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, merupakan tokoh penting yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), sementara ibunya, Sholehah, ialah putri pendiri Pesantren Denanyar, KH Bisri Syamsuri. Sejak kecil, Gus Dur menunjukkan kecintaannya pada buku. Ia menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan pribadi ayahnya dan perpustakaan umum di Jakarta. Memasuki usia remaja, ia sudah akrab dengan beragam majalah, surat kabar, novel, dan buku sastra.
Selain membaca, ia juga menikmati sepak bola, catur, dan musik. Bahkan, televisi nasional sempat memintanya menjadi komentator sepak bola. Gus Dur menjalani masa remajanya di Yogyakarta dan Tegalrejo, Magelang, sebuah periode yang menentukan perkembangan intelektualnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Gus Dur melanjutkan studi ke Timur Tengah. Ia tercatat sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, (1964–1966), kemudian meneruskan pendidikan di Universitas Baghdad, Irak, hingga 1970. Ia juga sempat mengambil studi lanjutan di Universitas Leiden, Belanda.
Sekembalinya ke Indonesia, Gus Dur memilih berkarier sebagai pendidik. Pada 1971, ia mulai mengajar di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng, Jombang. Tiga tahun kemudian, pamannya, KH Yusuf Hasyim, mempercayakan Gus Dur menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng. Pada periode ini, ia juga aktif menulis dan terlibat dalam berbagai kegiatan LSM, termasuk LP3ES dan pendirian P3M yang fokus pada pengembangan pesantren dan masyarakat.
Tahun 1979, Gus Dur hijrah ke Jakarta dan merintis Pesantren Ciganjur. Setahun berselang, organisasi mempercayakan ia menjadi wakil katib syuriah PBNU. Di NU, Gus Dur banyak terlibat dalam diskusi lintas agama, suku, dan disiplin ilmu, sambil terus memperkuat kiprahnya di dunia pemikiran, kebudayaan, dan politik.
Momentum besar tercipta pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo tahun 1984, saat peserta memilih Gus Dur secara aklamasi sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Gus Dur akhirnya melepas posisi tersebut ketika menjabat Presiden ke-4 RI, menggantikan BJ Habibie. Sebelumnya, MPR menyerang Habibie—sebagai presiden pada masa transisi Orde Baru ke Reformasi—hampir dari seluruh anggotanya. Mereka menolak laporan pertanggungjawabannya.













