### Perintis Sekolah Diniyah Putri Dinobatkan Pahlawan Nasional

Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang Fauziah Fauzan El Muhammady berfoto di samping foto Rahmah El Yunusiyyah di Istana Negara Jakarta, Senin (10/11/2025).
TRANSPARANN.ID – Pemerintah resmi menetapkan Rahma El Yunusiah sebagai Pahlawan Nasional pada Senin (10/11/2025). Tokoh perempuan asal Sumatera Barat itu juga menyandang gelar kehormatan “Syekhah” dari Universitas Al-Azhar, Mesir.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116.TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditetapkan di Jakarta pada 6 November 2025. Upacara penganugerahan berlangsung di Istana Jakarta.
Selain Rahma El Yunusiah, Presiden Prabowo Subianto juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh lain, seperti K.H. Abdurachman Wahid (Gus Dur) dari Jawa Timur dan Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto dari Jawa Tengah. Nama lain meliputi Marsinah (Jawa Timur), Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat), dan Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Jawa Tengah).
Also Read
Selanjutnya, gelar juga diberikan kepada Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat), Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur), Tuan Rondahaim Saragih (Sumatera Utara), serta Zainal Abidin Syah (Maluku Utara). Pemberian gelar ini menjadi bentuk penghargaan negara atas kontribusi besar para tokoh dalam kepemimpinan, demokrasi, HAM, dan pengabdian kepada rakyat.
Perjuangan Rahma El Yunusiah di dunia pendidikan sudah diakui sejak lama. Mantan Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali pernah menegaskan besarnya jasa Rahma, mengutip pendapat Prof. Dr. Mukti Ali yang disampaikan saat kunjungan ke Diniyah Putri Padang Panjang pada 1978.
Ia menilai, tindakan Rahma mendirikan sekolah khusus perempuan pada 1923 merupakan terobosan luar biasa karena berseberangan dengan pandangan umum saat itu. “Jika lelaki bisa, mengapa perempuan tidak bisa?” demikian salah satu ungkapan Rahma, dikutip dari buku Ulama Perempuan Indonesia karya Junaidatul Munawaroh (2002:12).
Rahma lahir di Nagari Bukit Surungan, Padangpanjang, Sumatera Barat, pada 29 Desember 1900. Ia menikah di usia 16 tahun, namun pernikahan itu hanya bertahan enam tahun. Setelah itu, ia tampil sebagai sosok perempuan berpengaruh di bidang pendidikan dan perjuangan.
Pada 1 November 1923, Rahma mendirikan Madrasah Diniyah Li al-Banat, sekolah khusus untuk perempuan yang merupakan lanjutan dari Diniyah School milik kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy, yang berdiri sejak 10 Oktober 1915.
Meski menghadapi berbagai rintangan, termasuk kematian kakaknya pada 1924 dan gempa besar yang mengguncang Sumatera Barat pada 1926, Rahma tidak menyerah. Ia memperluas wawasan dengan melakukan studi banding ke Pinang, Terengganu, Johor, Negeri Sembilan, Selangor, Perak, Pahang, Kelantan, hingga Kedah.

Perjuangannya kemudian melahirkan Kulliyatul Muallimat al-Islamiyyah (KMI), sekolah pendidikan guru yang berdiri pada 1 Februari 1937.
Pada masa pendudukan Jepang, Rahma memimpin Haha No Kai di Padangpanjang dan membantu perwira Giyugun. Ia juga berperan dalam pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padangpanjang selama perang kemerdekaan.
Selain itu, Rahma menggerakkan para muridnya untuk membantu perjuangan meski hanya berbekal penyediaan makanan dan obat-obatan. Ia sempat ditangkap dan ditahan Belanda pada Januari 1949.
Perjuangannya berlanjut hingga ia terpilih menjadi anggota DPR dari Partai Masyumi pada Pemilu 1955. Pada 1961, ia kembali tertangkap karena mendukung pemerintahan PRRI. Beruntung, Presiden Soekarno mengampuninya.
Rahma kemudian mengidap kanker payudara, hingga akhirnya wafat pada 26 Februari 1969 di usia 71 tahun. Dedikasinya yang besar, terutama dalam pendidikan perempuan, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia.
Dengan penetapan sebagai Pahlawan Nasional, bangsa ini kembali menegaskan besarnya peran Rahma El Yunusiah dalam membangun pendidikan dan perjuangan bagi kaum perempuan serta negara. (*)















