### Kisah hidup istri Aidit penuh luka sejarah

Keluarga DN Aidit.
Di balik sosok DN Aidit, Ketua PKI yang identik dengan tragedi G30S 1965, berdiri seorang perempuan kuat bernama dr. Soetanti. Ia bukan hanya istri tokoh besar, tetapi juga tercatat sebagai dokter ahli akupuntur pertama di Indonesia.
Soetanti lahir pada 1 November 1923 dari keluarga terpandang. Ayahnya, Raden Mas Mudikdio, masih memiliki garis keturunan dengan Bupati Rembang K.R.M. Ario Singgih Djojoadhiningrat, suami R.A. Kartini. Meski berdarah bangsawan, Soetanti tumbuh sederhana dan peka terhadap masalah kesehatan masyarakat.
Sejak kecil, ia menunjukkan minat pada dunia medis. Ia membantu tetangga yang sakit dan bertekad melanjutkan studi kedokteran. Saat keluarganya kesulitan membayar biaya kuliah, ia tetap berjuang hingga mendapat bantuan dari Raden Mas Soesalit Djojoadiningrat, putra R.A. Kartini.
Also Read
Setelah lulus MULO, Soetanti masuk NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya. Minatnya pada akupuntur semakin kuat, meski saat itu bidang ini masih dianggap eksperimental. Ketekunannya membuat ia lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Pada 1958–1960, Soetanti menempuh studi radiologi di Uni Soviet dengan beasiswa. Sepulangnya, ia mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan membuka praktik di RS Cipto Mangunkusumo serta Poliklinik Rakyat PKI. Ia kemudian memperdalam akupuntur di Pyongyang, Korea Utara, sekaligus membesarkan anak-anaknya bersama Aidit.
Namun, tragedi G30S 1965 mengubah hidupnya. Sebagai istri Aidit, ia menanggung stigma berat dan mendekam di penjara selama 14 tahun. Ia berpindah dari tahanan Kodim 66 hingga Penjara Bukit Duri sebelum bebas pada 1980.
Kisah getir itu bermula pada malam 30 September 1965. Soetanti sempat memohon agar Aidit tidak pergi bersama “penjemput” yang datang, tetapi Aidit bersikeras. Sejak itu, ia tak pernah kembali. Tiga hari kemudian, Soetanti meninggalkan rumah dan anak-anaknya untuk menyusul Aidit ke Boyolali. Ia menyamar bersama Bupati Boyolali sebagai pasangan suami istri, namun penyamaran itu terbongkar dan ia ditangkap.
Setelah bebas, Soetanti mencoba membangun hidup baru dengan membuka praktik dokter. Namun kondisi tubuhnya yang rapuh membuatnya sakit-sakitan hingga wafat pada 1991.
Kisah Soetanti Aidit bukan sekadar catatan politik, melainkan potret perempuan yang berdiri di persimpangan sejarah: seorang bangsawan Jawa, istri Ketua PKI, sekaligus pelopor akupuntur di Indonesia. (*)
















