### Monumen sejarah lahirkan Hari Kesaktian

Lubang Buaya saksi bisu kekejaman gerakan PKI.
TRANSPARANN.ID – Lubang Buaya di Jakarta Timur menjadi saksi bisu tragedi G30S/PKI 1965. Di lokasi ini, tujuh Pahlawan Revolusi gugur dan jasad mereka dibuang ke dalam sumur sempit.
Para korban adalah Letjen Anumerta Ahmad Yani, Mayjen Raden Soeprapto, Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen Siswondo Parman, Brigjen Donald Isaac Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean. Pasukan kemudian mengevakuasi jenazah mereka dan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Asal Usul Nama Lubang Buaya
Masyarakat sudah mengenal nama Lubang Buaya jauh sebelum tragedi 1965. Nama itu muncul dari mitos buaya putih yang dipercaya hidup di sungai sekitar wilayah tersebut. Seiring waktu, nama ini melekat dan semakin dikenal setelah menjadi lokasi pembuangan jenazah para pahlawan.
Also Read
Dari Tragedi Menjadi Monumen
Pemerintah mengubah kawasan Lubang Buaya menjadi kompleks bersejarah. Monumen Pancasila Sakti berdiri pada 1969, Museum Pancasila Sakti diresmikan pada 1982, dan Museum Pengkhianatan PKI dibuka pada 1992. Ribuan pengunjung datang setiap tahun untuk mengenang pengorbanan para pahlawan.
Lahirnya Hari Kesaktian Pancasila
Pemerintah menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk menghormati peristiwa ini. Awalnya TNI AD memperingatinya, lalu seluruh angkatan bersenjata ikut serta. Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres Nomor 153 Tahun 1967 yang menetapkan peringatan ini secara nasional.
Hari Kesaktian Pancasila kini menjadi simbol keteguhan bangsa bahwa Pancasila tetap berdiri kokoh meski diguncang pengkhianatan dan ancaman perpecahan. (*)















