banner_kedokteran

The Fed Turunkan Bunga, Pasar RI Optimis

Selanjutnya, BRIDS menilai kebijakan The Fed menghentikan pengurangan neraca (balance sheet runoff) per 1 Desember 2025 akan memperkuat sinyal pelonggaran likuiditas global. Dengan demikian, arus modal berpotensi masuk lebih cepat ke pasar berkembang, termasuk Indonesia yang menawarkan imbal hasil menarik dan prospek pertumbuhan solid.

Selain itu, Helmy menekankan bahwa sentimen pasar mulai berbalik positif seiring turunnya suku bunga global.
“Dengan inflasi terkendali, pertumbuhan stabil, dan ruang kebijakan yang luas, Indonesia memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan negara lain di kawasan. Kondisi ini membuat pasar Indonesia tetap menarik bagi investor, bahkan di tengah ketidakpastian global,” terang Helmy.

Baca Juga :   BRI Danareksa Dorong Investor Perempuan

Seiring penurunan suku bunga global, investor asing kembali meningkatkan minat pada pasar Indonesia. Data BRIDS mencatat net buy asing sebesar Rp545 miliar pada sesi pertama perdagangan 30 Oktober 2025. Fakta ini menandakan kepercayaan investor terhadap prospek pasar domestik mulai pulih.

Dari sisi teknikal, Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRIDS, menegaskan bahwa IHSG masih bergerak dalam tren bullish yang solid. Indeks menembus level 8.180, mendekati resistance di 8.320, dengan support krusial di 7.989. Menurut BRIDS, pemangkasan suku bunga The Fed berpotensi menjadi katalis fundamental yang mendorong IHSG menembus resistance, selama support tetap terjaga.

Baca Juga :   Macro Outlook BRIDS 2026, Manufaktur Jadi Kunci

Menutup analisisnya, BRIDS menilai kondisi global yang lebih longgar akan memberi dorongan tambahan bagi pasar keuangan Indonesia menjelang akhir tahun. Dengan likuiditas global yang membaik dan arus dana asing yang kembali masuk, pasar saham domestik berpeluang melanjutkan tren kenaikan. Selain itu, fenomena window dressing berpotensi memperkuat sentimen beli investor di akhir tahun. (*)