### BRIDS: Momentum Positif Pasar Modal

Chief Economist BRIDS, Helmy Kristanto.
TRANSPARANN.ID – The Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% pada pertemuan Oktober. Langkah ini menandai penurunan kedua berturut-turut dalam siklus pelonggaran kebijakan. Dengan keputusan 10 banding 2, FOMC menunjukkan perbedaan pandangan: sebagian anggota tetap mewaspadai inflasi, sementara lainnya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Chief Economist BRIDS, Helmy Kristanto, menegaskan bahwa langkah The Fed memberi sinyal berakhirnya fase pengetatan moneter global.
“Pemangkasan suku bunga The Fed menunjukkan arah kebijakan yang lebih seimbang. Likuiditas global berpotensi membaik, sehingga negara berkembang seperti Indonesia dapat menjaga stabilitas tanpa tekanan suku bunga tinggi,” terang Helmy.
BACA JUGA : https://transparann.id/bri-danareksa-purbaya-yudhi-sadewa-menteri-keuangan-pro-growth/
Also Read
Selanjutnya, BRIDS menilai kebijakan The Fed menghentikan pengurangan neraca (balance sheet runoff) per 1 Desember 2025 akan memperkuat sinyal pelonggaran likuiditas global. Dengan demikian, arus modal berpotensi masuk lebih cepat ke pasar berkembang, termasuk Indonesia yang menawarkan imbal hasil menarik dan prospek pertumbuhan solid.
Selain itu, Helmy menekankan bahwa sentimen pasar mulai berbalik positif seiring turunnya suku bunga global.
“Dengan inflasi terkendali, pertumbuhan stabil, dan ruang kebijakan yang luas, Indonesia memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan negara lain di kawasan. Kondisi ini membuat pasar Indonesia tetap menarik bagi investor, bahkan di tengah ketidakpastian global,” terang Helmy.
Seiring penurunan suku bunga global, investor asing kembali meningkatkan minat pada pasar Indonesia. Data BRIDS mencatat net buy asing sebesar Rp545 miliar pada sesi pertama perdagangan 30 Oktober 2025. Fakta ini menandakan kepercayaan investor terhadap prospek pasar domestik mulai pulih.
Dari sisi teknikal, Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRIDS, menegaskan bahwa IHSG masih bergerak dalam tren bullish yang solid. Indeks menembus level 8.180, mendekati resistance di 8.320, dengan support krusial di 7.989. Menurut BRIDS, pemangkasan suku bunga The Fed berpotensi menjadi katalis fundamental yang mendorong IHSG menembus resistance, selama support tetap terjaga.
Menutup analisisnya, BRIDS menilai kondisi global yang lebih longgar akan memberi dorongan tambahan bagi pasar keuangan Indonesia menjelang akhir tahun. Dengan likuiditas global yang membaik dan arus dana asing yang kembali masuk, pasar saham domestik berpeluang melanjutkan tren kenaikan. Selain itu, fenomena window dressing berpotensi memperkuat sentimen beli investor di akhir tahun. (*)
















