### Polisi Ubah Jeruji Besi Jadi Ruang Tobat

Ipda Deni Arpan membimbing tahanan membaca Al Qoran.
TRANSPARANN.ID, OKU – Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an kini menggema dari balik jeruji besi Markas Kepolisian Resor (Polres) Ogan Komering Ulu (OKU). Tak ada lagi tatapan kosong yang biasa menghiasi wajah para tahanan; kini mereka sibuk mengeja huruf hijaiyah dalam program inovatif bertajuk Tahanan Mengaji dengan Polri (Tanjidor).
Kapolres OKU, AKBP Endro Aribowo, menginisiasi program ini sebagai langkah pendekatan humanis. Kepolisian ingin memastikan para tahanan memanfaatkan masa tunggu pelimpahan berkas perkara (P21) ke kejaksaan dengan kegiatan yang membangun jiwa.
Polisi Jadi Guru Ngaji
Also Read
Dalam pelaksanaannya, Polres OKU tidak mendatangkan ustaz dari luar, melainkan memberdayakan anggotanya sendiri. Ipda Deni Arpan dan Ipda Mualimin mengambil peran mulia ini. Kedua perwira tersebut turun langsung membimbing 41 tahanan yang kini mendekam di sel Polres OKU.
Ipda Deni Arpan menuturkan, pihaknya membagikan buku Iqro secara personal kepada setiap tahanan. Ia dan rekannya mengajarkan cara membaca Iqro, melantunkan selawat, hingga memberikan siraman rohani secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing individu.
“Mereka (para tahanan) memiliki banyak waktu luang. Jika tidak kita isi dengan kegiatan positif, kami khawatir justru memicu hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar IPDA Deni saat ditemui di sela kegiatan, Senin, 22 Desember 2025.

Kasat Binmas Polres OKU, AKP Ujang bersama Ipda Mualimin memberikan tasyiah kepada para tahanan.
Perubahan Perlahan Namun Pasti
Program yang telah berjalan selama empat bulan ini rutin digelar setiap hari Senin hingga Jumat. Ipda Deni menceritakan perubahan nyata yang ia saksikan. Tahanan yang sebelumnya sama sekali buta aksara Al-Qur’an, kini mulai mengenal huruf demi huruf.
“Melalui pembinaan ini, kami berharap para tahanan minimal mengenal huruf hijaiyah dan mampu mengaji secara mandiri,” tambahnya penuh harap.
Upaya polisi dalam memanusiakan tahanan ini menuai apresiasi hangat dari pihak keluarga. Ahmad Jupri, orang tua salah satu tahanan, mengungkapkan rasa harunya. Ia melihat program Tanjidor sebagai secercah harapan bagi masa depan anaknya.
“Terima kasih sudah membimbing anak kami dengan benar. Mudah-mudahan setelah melewati masa tahanan, anak saya kembali sadar dan berubah,” ucap Ahmad dengan mata berkaca-kaca.
Melalui program Tanjidor, Polres OKU membuktikan bahwa penegakan hukum tak melulu soal hukuman fisik, tetapi juga tentang menyentuh hati. Polisi berharap, bekal agama ini akan mengantarkan para tahanan kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan bertobat.













