Lena meminta Dinkes menelusuri korban langsung ke rumah warga agar data lebih akurat.
Respons Dinas Kesehatan
Kepala Dinkes Manggarai, Jefrin Haryanto, memberikan klarifikasi terkait perbedaan data tersebut.
Ia menjelaskan bahwa petugas hanya mencatat korban yang datang ke fasilitas kesehatan (faskes).
“Kami tidak bisa menghitung semua yang tidak datang ke faskes,” kata Jefrin.
Jefrin mengakui korban berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu hamil, balita, pelajar, hingga orang tua.
Seluruh korban memiliki riwayat menyantap menu MBG yang sama di sekolah maupun posyandu.
Menu pada 10 Februari berisi nasi, telur, tempe, dan salak. Sedangkan menu hari berikutnya terdiri dari nasi, ayam, labu, dan jagung.
Investigasi Berlanjut
Saat ini, tim Dinkes tengah melakukan investigasi epidemiologi. Petugas memeriksa sampel makanan dan spesimen pasien untuk mencari sumber racun.
Makanan tersebut berasal dari Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di Desa Papang.
Puskesmas setempat kini bersiaga penuh. Jefrin menginstruksikan petugas untuk aktif mencari warga yang sakit namun belum berobat.
Sementara itu, pihak SDN Ulu Belang mengambil langkah tegas. Sekolah memutuskan menolak distribusi MBG untuk sementara waktu.
Lena berharap transparansi penanganan kasus ini diutamakan. Hal ini penting agar orang tua kembali merasa aman menitipkan anaknya di sekolah. (*)