### Data Dinkes Vs Fakta Lapangan : Korban Capai 131 Orang di Satu Sekolah

Ibu hamil di Kecamatan Satar Mese, Manggarai, NTT diduga keracunan MBG dirawat di Puskesmas.
TRANSPARANN.ID, MANGGARAI – Ratusan siswa di Desa Ulu Belang, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), terbaring lemah. Mereka diduga mengalami keracunan massal usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Wajah-wajah ceria di sekolah berubah pucat sejak Kamis (12/2/2026). Gejala demam, mual, muntah, hingga diare menyerang mereka secara serentak.
Kepala Desa Ulu Belang, Wilhelmus Jokang, mengonfirmasi kejadian memilukan ini pada Jumat (13/2/2026).
Also Read
“Gejalanya demam, mual, muntah, dan diare,” ungkap Wilhelmus.
Korban tidak hanya murid sekolah dasar. Guru, kepala sekolah, hingga tenaga kesehatan turut merasakan sakit yang sama.
Wilhelmus merinci korban di SDN Ulu Belang mencapai 131 orang dari total 185 siswa.
“Kepala SMP 15 bersama istri dan satu bidan pustu juga kena,” jelasnya.
Perbedaan Data Korban
Jumlah korban yang membludak memicu perdebatan data. Kepala SDN Ulu Belang, Lena Lensiana Ije, meragukan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Manggarai.
Sebelumnya, Dinkes merilis data sementara sebanyak 42 kasus teridentifikasi. Lena menilai angka tersebut tidak masuk akal.
“Di sekolah saya saja korban mencapai 131 orang,” tegas Lena dikutip portal ini dari floresa.co.
Angka itu belum mencakup anak TK, PAUD, dan balita di desa tersebut. Lena menyaksikan sendiri antrean pasien yang penuh sesak di Puskesmas Ponggeok.
Ia menyebut, banyak siswa ditangani di sekolah karena kehabisan tempat. Hanya siswa dengan kondisi kritis yang dilarikan ke puskesmas.
Lena meminta Dinkes menelusuri korban langsung ke rumah warga agar data lebih akurat.
Respons Dinas Kesehatan
Kepala Dinkes Manggarai, Jefrin Haryanto, memberikan klarifikasi terkait perbedaan data tersebut.
Ia menjelaskan bahwa petugas hanya mencatat korban yang datang ke fasilitas kesehatan (faskes).
“Kami tidak bisa menghitung semua yang tidak datang ke faskes,” kata Jefrin.
Jefrin mengakui korban berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu hamil, balita, pelajar, hingga orang tua.
Seluruh korban memiliki riwayat menyantap menu MBG yang sama di sekolah maupun posyandu.
Menu pada 10 Februari berisi nasi, telur, tempe, dan salak. Sedangkan menu hari berikutnya terdiri dari nasi, ayam, labu, dan jagung.
Investigasi Berlanjut
Saat ini, tim Dinkes tengah melakukan investigasi epidemiologi. Petugas memeriksa sampel makanan dan spesimen pasien untuk mencari sumber racun.
Makanan tersebut berasal dari Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di Desa Papang.
Puskesmas setempat kini bersiaga penuh. Jefrin menginstruksikan petugas untuk aktif mencari warga yang sakit namun belum berobat.
Sementara itu, pihak SDN Ulu Belang mengambil langkah tegas. Sekolah memutuskan menolak distribusi MBG untuk sementara waktu.
Lena berharap transparansi penanganan kasus ini diutamakan. Hal ini penting agar orang tua kembali merasa aman menitipkan anaknya di sekolah. (*)











