### Pelajar Papua Tuntut Pendidikan Bukan Makan Gratis

RIBUAN PELAJAR DEIYAI TOLAK MBG : Ribuan pelajar membanjiri jalanan Deiyai menolak paksaan pusat. Massa menuntut pendidikan gratis daripada sekadar makan siang. Mereka berjalan kaki menuju kantor bupati dengan amarah. Kebijakan Makan Bergizi Gratis dianggap melukai rasa aman. Keterlibatan militer dalam urusan dapur memicu trauma mendalam.
TRANSPARANN.ID, PAPUA – Ribuan pelajar Papua Tengah tumpah ke jalanan. Mereka menolak keras program Makan Bergizi Gratis (MBG). Aksi massa ini mengepung kantor Bupati Deiyai. Para siswa menuntut pemerintah fokus pada pendidikan.
Perlawanan Massal di Deiyai
Siswa belasan sekolah melakukan aksi long march. Mereka mengenakan seragam sekolah saat menyampaikan orasi. Yohanes Koutoki memimpin pekikan penolakan di halaman kantor. Pelajar khawatir program ini memangkas anggaran sekolah. Mereka menganggap program pusat tersebut salah sasaran.
Birokrasi Berdalih, Siswa Tetap Marah
Sekda Deiyai, Melianus Pakage, menemui para demonstran. Ia mengaku tidak bisa menghapus program pusat. Pemerintah daerah hanya menunggu instruksi lembaga baru. Namun, penjelasan normatif ini tidak meredam amarah. Para guru justru ikut mendampingi aksi tersebut.
Also Read
Trauma Militer dan Konflik
Penolakan serupa meluas hingga ke Kabupaten Paniai. Di Yahukimo, pelajar mengecam keterlibatan aparat TNI. Militer menggunakan mobil perang untuk mengantar makanan. Hal ini memicu ketakutan luar biasa bagi siswa. Donny Siep menegaskan rakyat butuh rasa aman.

TOLAK MBG : Sejumlah pelajar Papua turun ke jalan menolak program Makan Bergizi Gratis. Mereka membentangkan spanduk menuntut pendidikan gratis.
Pelajar Yahukimo mengecam keras pelibatan aparat TNI. Aparat mendistribusikan logistik makanan menggunakan mobil perang militer. Tindakan intimidatif tersebut memicu trauma dan ketakutan para siswa. Kehadiran tentara justru menghancurkan rasa aman anak-anak di sekolah.
Merespons hal ini, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin membenarkan pengerahan prajurit. Ia beralasan situasi keamanan wilayah belum sepenuhnya berjalan kondusif. Di sisi lain, kekerasan oknum ASN menodai unjuk rasa Nabire. Meski oknum tersebut membantah, rekaman video membuktikan aksi kasarnya.
Prioritas Jakarta yang Keliru
Yayasan Pendidikan Katolik turut menyatakan sikap tegas. Mereka melarang program MBG berlanjut di sekolah. Kepala Sekolah Karpus Belau menuntut fasilitas belajar. Masyarakat lebih butuh sarana pendidikan yang layak. Ironisnya, oknum ASN Nabire terekam menendang siswa.
Sikap Dingin Badan Gizi Nasional
Kepala Badan Gizi, Dadan Hindayana, menanggapi santai. Ia menghormati pihak yang menolak bantuan makanan. Pemerintah tetap memaksakan program di 38 provinsi. Sikap ini seolah mengabaikan luka rakyat Papua. Protes ini menjadi tamparan keras bagi Jakarta. (*)











