### 25 Siswa PPU Keracunan Puding

TERBARING LEMAS : Puluhan siswa SDN 008 Waru dan SMAN 2 Waru menjalani perawatan intensif di Puskesmas Waru, Penajam Paser Utara, Rabu (11/2/2026). Ruang perawatan tampak dipadati siswa yang terpasang infus, bahkan sebagian harus dirawat di lantai beralaskan karpet akibat membludaknya pasien dugaan keracunan menu puding dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
TRANSPARANN.ID, PENAJAM PASER UTARA – Tragedi memilukan menimpa dunia pendidikan di Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Rabu (11/2/2026).
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menyehatkan justru membawa petaka bagi 25 pelajar. Puluhan siswa SDN 008 Waru dan SMAN 2 Waru mendadak tumbang secara massal.
Mereka mengalami mual, muntah, hingga pusing hebat usai menyantap jatah makan siang dari sekolah. Warga dan guru segera melarikan para korban yang lemas ke Puskesmas Waru untuk penanganan darurat.
Also Read
Dari total korban, tim medis mengidentifikasi 16 siswa laki-laki dan 9 perempuan terkapar tak berdaya. Dugaan kuat mengarah pada menu puding sebagai biang kerok keracunan massal ini.
Tangis Orang Tua Pecah
Kepanikan menyelimuti Puskesmas Waru saat para orang tua menyaksikan buah hati mereka terbaring dengan selang infus.
Istiana Hasanuddin, salah satu orang tua korban, tak kuasa menahan cemas melihat kondisi anaknya. Ia menerima kabar mengejutkan tersebut melalui grup percakapan sekolah yang mendadak gempar.
“Tahu-tahu saya mendapat telepon untuk segera datang ke sini,” ujar Istiana dengan suara bergetar.
Sang anak mulai menunjukkan gejala keracunan mengerikan sekitar pukul 11.30 WITA. Padahal, menurut pengakuan Istiana, anaknya hanya memakan sedikit puding dari paket makanan tersebut.
“Saya datang, anak sudah diinfus. Katanya belum boleh pulang, harus observasi,” tambahnya dengan nada getir.
Ia menegaskan bahwa putranya tidak memiliki riwayat alergi makanan apapun sebelumnya.
Kritik Tajam Wali Murid
Insiden ini sontak memantik amarah dan kritik pedas dari para wali murid terhadap pengelola program. Suami Istiana menilai pemerintah gagal menjamin keamanan pangan bagi generasi penerus bangsa.
Ia menuntut agar anggaran makan gratis sebaiknya langsung diserahkan kepada orang tua siswa.
“Lebih baik uangnya berikan ke kami, biar orang tua masak sendiri,” tegasnya penuh emosi.
Menurutnya, orang tua pasti lebih bertanggung jawab dan mengerti kebutuhan gizi serta alergi anak mereka. Kelalaian pengawasan ini dinilai mempertaruhkan nyawa siswa demi sebuah program birokrasi.
Pengakuan Pihak Pengelola
Pihak pengelola MBG Waru akhirnya buka suara terkait insiden yang mencoreng nama baik program ini. Yedi Kesuma, PIC Mitra Dapur MBG Kecamatan Waru, mengakui menu tersebut berasal dari pesanan mitra UMKM.
“Hari ini perdana kami mencoba memberdayakan UMKM, bukan produksi dapur sendiri,” dalih Yedi.
Ia berjanji menjadikan musibah ini sebagai bahan evaluasi internal agar tidak terulang kembali. Yedi mengklaim dari 1.040 porsi, mayoritas aman, namun 25 porsi puding tersebut ternyata bermasalah.
Pemerintah Janji Evaluasi
Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin, menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada seluruh orang tua terdampak. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan segera melakukan investigasi menyeluruh.
“Kasus ini di luar nalar. Segala sesuatu yang dianggap baik tetap harus kami evaluasi,” kata Waris.
Pemerintah menduga kurangnya pengawasan ketat pada menu tambahan seperti buah atau puding menjadi penyebab utama.
Pihaknya berencana memanggil seluruh pihak terkait, termasuk penyedia makanan, untuk dimintai pertanggungjawaban. “Kami minta maaf. Ini bukan kesengajaan, tapi kami akan perbaiki sistem pengawasan,” pungkasnya. (*)











