### Tragedi Perkedel Tahu: 340 Warga Tumbang

PERAWATAN DARURAT : Petugas medis sibuk menangani gelombang pasien keracunan di bawah tenda darurat halaman Puskesmas Marau, Jumat (6/2/2026). Sebanyak 340 korban harus mendapatkan bantuan infus di area terbuka akibat insiden keracunan massal yang diduga berasal dari menu perkedel tahu.
TRANSPARANN.ID – Jerit Kesakitan di Lorong Puskesmas, kepanikan memecah keheningan di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Ratusan siswa dan guru terbaring lemah menahan sakit.
Wajah-wajah pucat memenuhi lorong Puskesmas setempat sejak Kamis pagi. Mereka diduga mengalami keracunan massal usai menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Data terbaru pada Jumat (6/2/2026) mencatat angka yang mengejutkan. Sebanyak 340 orang harus mendapatkan penanganan medis darurat.
Also Read
Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Feria Kowira, langsung memimpin respons cepat. Ia memastikan tim medis bekerja tanpa henti menangani gelombang pasien ini.
“Kami sedang menangani 340 pasien yang diduga keracunan akibat konsumsi MBG,” tegas Feria, Jumat (6/2/2026).
Solidaritas Tenaga Medis
Puskesmas Marau tidak bekerja sendirian dalam situasi genting ini. Feria mengerahkan bantuan tenaga medis dari wilayah sekitar.
Tim dari Puskesmas Jelai Hulu, Suka Mulia, dan Dinas Kesehatan Ketapang turut bergabung. Mereka bahu-membahu memastikan setiap korban mendapat perawatan layak.
Kerja keras tim medis mulai membuahkan hasil positif. Sebagian pasien kini telah pulang setelah kondisi mereka membaik.
“Banyak pasien sudah pulih dan tidak lagi mengeluhkan gejala sakit,” ujar Feria dengan nada lega.
Misteri Perkedel Tahu
Penyebab tragedi ini mulai terkuak perlahan. Dugaan kuat mengarah pada menu perkedel tahu yang tersaji di piring siswa.
Kepala Program MBG Region Kalbar, Agus Kurniawi, mengungkap fakta mengejutkan soal proses pengolahan makanan tersebut.

MEMBLUDAK : Suasana di dalam Puskesmas Marau yang dipadati pasien korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (6/2/2026). Ratusan siswa dan warga terpaksa dirawat di lorong dengan alas seadanya karena kapasitas ruang perawatan yang sudah tidak memadai.
Dapur penyedia membuat adonan pada Selasa malam pukul 19.00 WIB. Namun, mereka baru mengolahnya pada Rabu dini hari pukul 02.00 WIB.
Jeda waktu yang panjang ini berpotensi memicu pertumbuhan bakteri berbahaya. Kini, sampel makanan sedang menjalani uji laboratorium untuk kepastian hukum.
Siswa Menjadi Korban Utama
Kisah pilu ini menimpa generasi muda harapan bangsa. Korban berasal dari SMPN 1, SMAN 1, dan SMKN 1 Marau.
Mereka menyantap menu dari penyedia dapur yang sama pada hari Rabu. Gejala mual, muntah, dan pusing mulai menyerang secara serentak.
Camat Marau, Vitalis Alpha Edyson, turun langsung menenangkan warganya. Ia menjamin pemerintah kecamatan menanggung seluruh biaya perawatan.
“Keselamatan siswa adalah prioritas utama kami. Jangan ragu melapor ke fasilitas kesehatan,” imbau Vitalis.
Alarm Bahaya yang Berulang
Insiden ini menambah daftar kelam program MBG di Kalimantan Barat. Kasus serupa pernah terjadi di Pontianak, Kayong Utara, hingga Sanggau.
Namun, penegakan hukum terhadap penyedia makanan yang lalai masih menjadi tanda tanya besar. Publik menanti ketegasan aparat agar kejadian ini tidak terulang.
Pengamat Sosial Universitas Tanjungpura, Syarif Usmulyadi, menyayangkan lambatnya proses hukum dalam kasus MBG.
“Aparat harus tegas. Jangan sampai ada perlakuan berbeda bagi pengelola katering program ini,” kritik Syarif.
Kita semua berharap, tragedi Marau menjadi pelajaran terakhir. Kesehatan anak bangsa tidak boleh tergadai oleh kelalaian segelintir pihak. (*)













