### Sistem yang abai perlahan membunuh harapan anak-anak miskin

Kemensos melalui Sentra Efata Kupang memberikan santunan dan bantuan dengan total Rp 9 juta bagi keluarga siswa SD yang meninggal diduga bunuh diri di NTT.
TRANSPARANN.ID, NGADA – Kabut duka yang sangat pekat menyelimuti SD Negeri Rj, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT.
Seorang siswa kelas IV berinisial YBR memilih mengakhiri hidupnya secara tragis pada Kamis (29/1).
Tragedi ini menegaskan kemiskinan bukan sekadar angka statistik. Kemiskinan nyata hadir, menyentuh jiwa anak, lalu merenggut nyawanya.
Kepergian korban menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Sistem yang abai perlahan membunuh harapan anak-anak miskin.
Kepergian bungsu dari lima bersaudara ini meninggalkan luka menganga bagi keluarga dan teman sekolahnya. Selama hidupnya, YBR tinggal bersama neneknya yang sudah renta di sebuah gubuk bambu sempit.
Mereka bertahan hidup di tengah kebun, jauh dari kemewahan dan keceriaan masa kecil. Sementara itu, ibu dan empat kakaknya tinggal di rumah yang terpisah dari mereka.
Kepala Sekolah SDN Rj, Maria Ngene, menyampaikan belasungkawa yang sangat mendalam atas tragedi ini. Maria mengenang YBR sebagai anak yang sangat ramah dan tidak pernah mencari masalah.
Ia selalu bersikap santun kepada guru dan teman-temannya selama mengikuti kegiatan belajar. Korban dikenal sebagai anak baik, ramah, dan tidak pernah bermasalah.




