### Kasus BGN OKU Supervisi oleh Bareskrim Polri

Kapolres OKU, AKBP Endro Aribowo SIK MAP.
TRANSPARANN.ID – Peristiwa 12 siswa SMP Negeri 9 OKU yang diduga keracunan makanan Selasa, 24 September 2025 lalu, terus berlanjut. Informasi yang diperoleh portal ini menyebutkan bahwa Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukaraja, Adi Negoro dipanggil Sat Reskrim Polres OKU, Rabu, 25 September 2025.
Dikonfirmasi portal ini, Kapolres OKU, AKBP Endro Aribowo, tidak menyebutkan secara eksplisit menyebutkan kalau Kepala SPPG Sukaraya dipanggil Sat Reskrim Polres OKU. Namun, Endro menyatakan bahwa semua pihak yang terlibat dalam peristiwa SMP Negeri 9 OKU diperiksa.
“Jika semua pihak yang terkait dugaan keracunan kemaren, sedang dilakukan pemeriksaan di Polres OKU,” tukas suami Ivonne Endro Aribowo ini.
Dikonfirmasi portal ini apakah ada sangsi pidana jika terbukti lalai dalam penyajian sehingga 12 siswa keracunan, Kapolres OKU menyatakan untuk mengikuti pemeriksaannya.
“Kita ikuti dulu pemeriksaannya. Kemaren juga sudah disupervisi oleh Bareskrim Polri,” tegas Alumni Akpol 2004 ini.
Also Read
Sementara itu, Kepala SPPG Sukaraya, Adi Negoro, dikonfirmasi portal ini sejak 25 September 2025 hingga saat berita ini terbit, tidak bersedia dikonfirmasi. Pasalnya, konfirmasi via whatsapp tidak direspon sama sekali.
Kasus ini menyisakan kekhawatiran bagi orang tua siswa dan masyarakat. Mereka berharap penyelidikan berjalan transparan agar kejadian serupa tidak terulang.
Untuk diketahui, Suasana haru menyelimuti SMP Negeri 9 OKU setelah 12 siswanya diduga keracunan makanan pada Selasa, 24 September 2025, yang lalu. Para orang tua bergegas ke sekolah dan rumah sakit begitu mendengar kabar anak-anak mereka tumbang usai menyantap makanan.
Seorang wali murid mengaku panik ketika menerima telepon dari pihak sekolah. “Saya langsung lari ke rumah sakit. Syukurlah anak saya sudah ditangani dokter, tapi saya masih takut kalau ada dampak lain,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Di ruang perawatan, beberapa siswa tampak lemas namun mulai membaik setelah mendapat infus dan obat. Guru-guru mendampingi mereka, berusaha menenangkan sekaligus memberi semangat.
Masyarakat sekitar juga menunjukkan kepedulian. Beberapa warga datang menjenguk, membawa air mineral dan makanan ringan untuk keluarga korban. “Kami prihatin, semoga anak-anak cepat pulih,” kata seorang warga.
Kasus ini menimbulkan keresahan di kalangan orang tua. Mereka berharap penyelidikan berjalan transparan dan ada langkah nyata untuk memperketat pengawasan makanan di sekolah. “Kami hanya ingin anak-anak belajar dengan tenang tanpa rasa takut,” tutur seorang ibu siswa. (bet)













