### Tarif baru demi tutup biaya operasional

Corporate Communication, Billy Fernando.
TRANSPARANN.ID – Untuk menutup kerugian dan tingginya biaya produksi dan operasional, Manajemen Perumda Air Minum Tirta Baturaja terpaksa menyesuaikan tarif Air Minum. Kebijakan ini diambil Direktur Perumda Air Minum Tirta Raja, H Bertho Dharmo Poedjo Asmanto setelah ia melihat kondisi Perumda Air Minum Tirta Raja tidak sehat pasca ia dilantik H Teddy Meilwansyah kala itu menjabat Penjabat Bupati OKU pada Rabu, 13 Maret 2024 di Pendopo Rumah Dinas Bupati OKU.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Raja, Bertho Darmo Poedjo Asmanto, melalui Corporate Communication, Billy Fernando, menceriterakan kepada portal ini ikhwal penyesuaian tarif air minum di Perumda Air Minum Tirta Raja.
“Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kondisi kita (PDAM Baturaja) kondisinya merugi. Akhirnya, ada inisiasi dari Pemkab OKU untuk merekrut tenaga professional tanpa ada unsur titipan ataupun orang dalam dan terpilihlah pak Bertho, mantan Direktur Ancol, mantan Direktur PAM Jakarta dan Direktur GBK artinya memiliki jam terbang yang mumpuni,” terang Billy.
Also Read
BACA JUGA : https://transparann.id/pdam-tirta-raja-baturaja-tidak-ada-sumbangsih-pad/
Awalnya, lanjut Billy, internal Perumda Air Minum Tirta Raja mengaku heran dengan Bertho Darmo kok mau ke OKU. Pasalnya, kalau masalah uang dirinya memperkirakan bahwa Bertho sudah cukup. Nah, untuk diketahui, dari jenjang SD, SMP, SMA hingga S – 2 Bertho selalu mendapat beasiswa alias dibiayai Negara yang intinya ingin membalas budi. “Tapi, tidak sampai periode jabatan pak Bertho menjalankannya jika tata kelola Perumda Air Minum Tirta Raja sudah running atau sudah bagus dan aman pelayanannya, beliau cabut karena melihat jejak karir beliau,” ucap Billy.
Nah, sejak menjabat, lanjut Billy, seluruh lini di Perumda Air Minum Tirta Raja dibenahi oleh Bertho Darmo. Mulai dari human capital (SDM), operasi, keuangan, teknik, pelayanan. Pasalnya, semua lini tersebut layak untuk dibenahi. “Dimata beliau perlu adanya transformasi di Perumda Air Minum Tirta Raja,” ujar Billy.
Setelah melihat semua lini perlu dibenahi maka terlihatlah tariff namun jangan dilihat tarif jual namun tarif biaya produksi PDAM sebelum penyesuaian tarif. Nah, biaya produksi sebelum kenaikan yakni Rp 5692/M³ sementara harga jual ke pelanggan Rp 5376/M³ jadi Perumda Air Minum Tirta Raja menanggung rugi sebesar Rp 316/M³. “Selama sebelas tahun kita tidak pernah melakukan penyesuaian tariff,” imbuh Billy.
Sebenarnya, lanjut Billy, pada tahun 2022 kala itu Direktur Perumda Air Minum Tirta Raja, Abi Kusno akan melakukan penyesuain tariff. Lantaran pada saat itu sedang inflasi pasca covid – 19, maka rencana penyesuaian tariff tersebut ditunda. “Juga merujuk saat itu ada surat edaran Gubernur untuk menunda rencana penyesuaian tariff Air Minum,” ujar Billy.
Nah, pada tahun 2024 Perumda Air Minum Tirta Raja menjajaki kembali rencana penyesuaian tariff yang sempat tertunda. Hal ini dilakukan berdasarkan amanat Permendagri Nomor 21 Tahun 2020 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 71 Tahun 2016 tentang Perhitungan dan Penetapan Tarif Air Minum. “Dalam Permendagri tersebut menyatakan bahwa Perumda Air Minum menyesuaikan atau menatapkan tariff setiap tahun di bulan November. Nah, pak Bertho menjalankan amanat Permendagri tersebut,” ungkap Billy.
Nah, Bertho Darmo tidak ujug – ujug menyesuaikan tariff Air Minum berdasarkan analisa internal. Namun, ada pedoman yakni Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 869/KPTS/IV/2021 tentang Penetapan Besaran Tarif Batas Bawah Dan Tarif Batas Atas Air Minum Kabupaten/Kota se – Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2022.
“Tarif kita saat ini mendekati tariff batas bawah bahkan sangat jauh dari tariff batas atas sesuai keputusan Gubernur tadi,” tukas Billy.
Diterangkan Billy, saat ini biaya produksi Perumda Air Minum Tirta Raja sebesar Rp 8.353/M³ dengan harga jual Rp 8.443/M³ atau kenaikan sebesar 57.04 persen dari sebelumnya Rp5376/M³. Sementara, batas atas keputusan Gubernur yakni Rp 12.578/M³ dan batas bawah Rp 5.873/M³.
“Kita hanya mengambil margin tipis yakni Rp 90/M³ atau 1.07 persen/M³,” ungkap Billy.
Saat ini Perumda Air Minum Tirta Raja mencatat per Agustus 2025 ada 15.713 pelanggan aktif dari total 22.001 pelanggan. 6288 pelanggan tidak aktif lantaran sudah dicabut karena menunggak. “Per Juli 2025 air yang dikonsumsi pelanggan ini sebanyak 535.118 M³,” ungkap Billy. (bet)














