Tidak tampak tatapan tajam ataupun taring yang menyeringai garang pada monumen tersebut. Sebaliknya, sang macan justru tampil dengan perawakan “gemoy”, polos, dan tampak terlalu subur, sehingga kesan menyeramkan hilang tak berbekas.
Keunikan visual ini membuat keberadaan patung di persimpangan jalan strategis tersebut sulit terabaikan. Para pengendara yang melintas kerap kali harus menahan tawa atau setidaknya mengernyitkan dahi, bertanya-tanya mengenai spesies hewan apa yang sebenarnya sedang dipajang oleh pembuatnya.
Kendati gagal dalam merepresentasikan kegagahan secara visual, Patung Macan Balongjeruk ini sukses menjadi bintang baru di jagat maya. Bentuknya yang “kocak” dan absurd justru menjadi daya tarik tersendiri.
Publik kini menilai, mungkin filosofi di balik pembuatan patung ini bukan untuk menakuti musuh. Patung ini hadir untuk menghibur warga yang lelah bekerja, agar bisa tersenyum simpul saat pulang ke rumah. (*)


