Landasan tugu memiliki bentuk segi empat bertingkat. Struktur ini menyerupai bentuk candi sederhana tanpa ukiran tradisional. Filosofinya mewakili semangat kebangkitan nasional pada masa perjuangan.
Pemerintah Kota Solo menjadikan tugu ini sebagai maskot resmi. Persis Solo juga memakai lambang ini sejak klub berdiri.
“Tugu ini merepresentasikan persatuan dan kesatuan masyarakat Solo,” ungkap Heri Priyatmoko.
Status Cagar Budaya Nasional
Pada tahun 2017, pemerintah menetapkan tugu ini sebagai cagar budaya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang mengeluarkan ketetapan tersebut. Langkah ini bertujuan menjaga kelestarian sejarah pergerakan kebangsaan kita.
Lokasi tugu berada di Jalan Wahidin No 33, Penumping. Wisatawan sangat mudah mengakses objek wisata sejarah ini. Tugu ini terus menjadi titik penting dalam berbagai kegiatan kota.
Mengulik Makna Lambang Kota Surakarta
Lambang Kota Surakarta memuat filosofi yang sangat mendalam. Setiap elemen visual mencerminkan sejarah dan cita-cita warganya. Warna lambang mengingatkan kita untuk selalu mengendalikan nafsu.
Hijau: Melambangkan kehidupan yang subur.
Putih, kuning, merah, hitam: Menggambarkan berbagai nafsu manusia.
Gambar perisai melambangkan perjuangan dan perlindungan masyarakat Surakarta. Tugu lilin menyala menandakan kebangkitan dan persatuan kebangsaan.
Keris menjadi simbol kejayaan dan kebudayaan yang luhur. Panah menandakan kewaspadaan yang harus selalu kita jaga bersama.
Jalur berombak melukiskan pentingnya Bengawan Solo bagi kehidupan kota. Bintang melambangkan kesejahteraan, sedangkan bambu runcing menyimbolkan perjuangan rakyat.
Kapas dan padi merupakan doa tulus untuk kemakmuran warga. Enam kapas dan enam belas padi melambangkan tanggal 16 Juni. Terakhir, kain Sidomukti menjadi doa untuk keluhuran budi.
Pesan Filosofis Tersembunyi
Lambang ini juga menyimpan unsur numerologi dan filosofi Jawa. Lingkaran jorong merupakan representasi simbol Surya Sangkala Memet. Anak panah berwatak enam, sedangkan air berwatak empat.
Garis lurus tugu berwatak sembilan dan tugu berwatak satu. Rangkaian ini berbunyi “Rinaras Dadi Terus Manunggal”.
Kalimat ini merujuk pada tahun penting, yakni 1946. Tahun tersebut menandai masa yang sangat bersejarah bagi Surakarta. (*)