Mereka sengaja menghindari makanan basah agar tidak basi. Namun, dalih ini tidak membenarkan pemangkasan standar gizi.
Baim, orang tua lainnya, mengecam keras kebijakan ini. Ia menuntut penyedia mengganti gorengan dengan telur rebus. “Penyedia jangan asal membagikan paket,” tegas Baim.
Sementara itu, Ibrahim Hading turut mengkritisi proyek ini. Ia menilai pemerintah wajib mengevaluasi total program MBG.
Kritik ini merupakan bentuk pengawasan atas uang rakyat. Program ini memakai anggaran negara, bukan dana pribadi.
Oleh karena itu, dampak gizi wajib menjadi prioritas. Penyedia tidak boleh mengorbankan kualitas demi meraup untung.
Kesimpulannya, standar gizi anak tidak boleh dimanipulasi. Rendi menegaskan bahwa gizi tidak boleh ikut berpuasa.
Pemerintah harus mengusut tuntas kualitas menu MBG ini. Evaluasi ketat wajib berjalan agar anggaran tidak bocor. Jangan biarkan oknum proyek bermain di bulan suci. (*)