Antrean siswa mengular panjang di depan kamar mandi sekolah, sementara di dalam kelas, satu per satu anak mulai bertumbangan. Mereka merintih kesakitan, memegangi perut yang melilit, bahkan beberapa di antaranya mengalami sesak napas hingga jatuh pingsan.
Pihak sekolah segera merespons situasi genting ini dengan menghubungi Puskesmas Purwosari. Tim medis yang datang berupaya memberikan pertolongan pertama berupa pemberian oralit dan obat mual di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) serta musala yang disulap menjadi bangsal darurat.
Sayangnya, jumlah korban yang terus bertambah membuat kapasitas penanganan medis di lokasi menjadi tidak memadai.
Melihat kondisi yang semakin kritis, sekitar 52 unit ambulans dari berbagai instansi kesehatan, termasuk BPPD Kabupaten Kudus, dikerahkan untuk mengevakuasi para korban.
Bupati Kudus, Sam’ani, bersama jajaran Forkopimda turun langsung ke lokasi untuk memantau proses penanganan yang dramatis tersebut.
Hingga data terakhir dihimpun, tercatat sebanyak 521 siswa dan 24 guru menjadi korban dalam insiden ini. Dari jumlah tersebut, 117 siswa harus dilarikan ke berbagai rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif karena kondisi mereka yang memburuk.
Sementara itu, tim kesehatan kabupaten kini tengah melacak kondisi 53 siswa lain yang tidak masuk sekolah untuk memastikan mereka mendapat penanganan yang tepat. (*)