Natal Kelabu di Tambagha Sumba Barat Daya

Risiko bahaya semakin meningkat ketika terjadi keadaan darurat pada malam hari. Warga kesulitan menolong orang sakit karena ketiadaan penerangan yang memadai.

Siprianus Bulu Tanggu, salah satu warga, meluapkan kekecewaannya yang mendalam. Ia menyebut pemadaman listrik terjadi hampir setiap malam tanpa solusi jelas.

“Kami ingin pasang meteran sendiri, tapi dayanya tidak kuat,” tegas Siprianus dengan nada kesal.

Ia akhirnya memilih kembali menggunakan lampu pelita tradisional. Menurutnya, hal itu lebih baik daripada berharap pada listrik yang tidak stabil.

Fakta di lapangan menunjukkan potret ketidakadilan pembangunan. Satu meteran listrik harus menopang beban pemakaian lebih dari sepuluh rumah.

Kondisi beban berlebih ini membuat arus listrik jebol dan memicu pemadaman bergilir. Warga menilai pihak terkait menutup mata terhadap minimnya jumlah meteran listrik.

Warga menuntut pemerintah daerah segera bertindak serius membereskan kekacauan ini. Mereka mendesak perbaikan jaringan demi keselamatan nyawa dan masa depan pendidikan anak-anak. (*)

Exit mobile version