Manufaktur Mendominasi Arus Modal
Arus FDI yang semakin produktif menyajikan fakta menarik. Hampir 60% aliran modal asing kini mengalir deras ke sektor manufaktur, meliputi industri logam dasar, kimia, mesin, dan elektronik. Hal ini mencerminkan keberhasilan Indonesia dalam memperkuat struktur ekonomi melalui investasi bernilai tambah yang mendongkrak daya saing industri.
Chief Economist & Macro Strategist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, memandang dominasi FDI di sektor manufaktur sebagai sinyal optimisme bagi masa depan ekonomi nasional.
“Investasi berbasis manufaktur memberikan efek berganda yang besar bagi perekonomian. Mulai dari meningkatkan pembentukan modal tetap, menciptakan lapangan kerja baru, hingga memperkuat basis industri nasional,” jelas Helmy.
Senada dengan hal itu, data menunjukkan bahwa setiap Rp1 triliun FDI berkontribusi sekitar Rp1,13 triliun terhadap Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Angka ini mempertegas peran vital investasi asing dalam memperkuat kapasitas produksi nasional.
Prospek Pasar Keuangan
Sementara itu, dari sisi pasar keuangan, pelaku pasar memprediksi kondisi Indonesia semakin kondusif seiring langkah bank sentral global dan domestik yang mulai memasuki fase pelonggaran moneter. Proyeksi pasar menunjukkan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun akan bergerak stabil di kisaran 5,6%–6,1%, yang mendukung pembiayaan bagi pemerintah maupun dunia usaha.
Meskipun risiko global masih membayangi, koordinasi solid antara kebijakan fiskal dan moneter terbukti memperkokoh pondasi makroekonomi Indonesia. Dengan bekal tersebut, Indonesia siap memasuki tahun 2026 dengan stabilitas yang terjaga dan prospek pertumbuhan yang berkelanjutan. (*)