Ia menilai, inisiatif ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perbaikan infrastruktur fisik.
“Gotong royong kita hari ini merupakan wujud kerja bersama tanpa pamrih. Kita ingin jalan poros ini segera nyaman dilintasi, baik oleh warga setempat maupun tetangga desa,” ujar Cik Agam.
Lebih lanjut, ia menekankan dampak sosial dari kegiatan ini. “Selain membuat pekerjaan berat terasa ringan, momen ini mempererat persaudaraan dan menumbuhkan kembali rasa tanggung jawab sosial di lingkungan kita,” tambahnya dengan nada menyentuh.
Swadaya di Tengah Keterbatasan
Senada dengan Cik Agam, Ketua RT 15, H. Heri Haryadi, menjelaskan alasan mendesak di balik aksi swadaya ini. Menurutnya, meskipun perbaikan jalan sudah masuk dalam rencana pembangunan, kondisi di lapangan menuntut penanganan segera.
Heri memaparkan bahwa pada tahun 2024, pihak RT telah mengusulkan perbaikan jalan cor beton sepanjang 400 meter.
“Alhamdulillah, usulan tersebut terealisasi sepanjang 194 meter melalui Bantuan Gubernur Sumsel tahun 2025. Namun, sisa jalan lainnya, terutama akses ke arah masjid, kondisinya sudah sangat urgent dan sulit dilewati kendaraan,” jelas Heri.
Enggan berpangku tangan menunggu anggaran tahun depan, warga sepakat mengumpulkan dana pribadi. Dana murni dari kantong warga inilah yang kemudian mereka gunakan untuk membeli material penambalan hari ini.
“Hari ini kami mengerjakan dua titik pengecoran, satu di lingkup RT 15 dan satu lagi di perbatasan RT tetangga. Untuk penyelesaian sisa jalan secara menyeluruh, kami telah melayangkan proposal ke Dinas PUPR Kabupaten OKU untuk tahun anggaran 2026,” tutup Heri optimis.
Aksi warga Sekarjaya ini membuktikan bahwa kepedulian dan kebersamaan mampu menjadi solusi konkret atas masalah lingkungan, sekaligus menghidupkan kembali roh gotong royong sebagai identitas bangsa. (*)