banner_kedokteran

Petaka MBG: 132 Siswa NTT Keracunan

Petaka ini tidak hanya menghantam satu titik, melainkan menyebar secara masif di lima sekolah di Kecamatan Kuwus. Berdasarkan data lapangan, SMAN 1 Kuwus menyumbang korban terbanyak dengan 42 siswa, disusul oleh SMPN 2 Kuwus (31), SDI Golo Bombong (30), SDI Golowelu 2 (20), dan SMKN 1 Kuwus (9). Angka ini menjadikan peristiwa di Kuwus sebagai salah satu kasus keracunan MBG terbesar di wilayah NTT.

Penyidik kesehatan kini menyoroti menu yang disajikan pada hari kejadian, yakni nasi putih, tempe krispi, telur kukus sambalado, sayur taoge, labu, sawi, serta buah semangka. Seluruh paket makanan tersebut diproduksi oleh Dapur MBG Kuwus Barat Kolang.

Tim surveilans Dinas Kesehatan bergerak cepat mengamankan sisa makanan layaknya barang bukti di tempat kejadian perkara. “Sampel sudah kami sita dan kini dalam proses uji laboratorium untuk mengungkap apakah racun berasal dari bahan baku, proses pengolahan, atau distribusi,” ujar Adrianus.

Sebagai langkah mitigasi darurat, operasional Dapur MBG Kuwus Barat Kolang resmi dibekukan sementara. Badan Gizi Nasional (BGN) langsung turun tangan melakukan investigasi menyeluruh, memeriksa sanitasi dapur hingga kepatuhan protokol keamanan pangan.

Dampak psikologis dari insiden ini memicu resistensi keras dari pihak sekolah. Kepala SMPN 2 Kuwus, Agustinus Angkur, secara terbuka menyatakan penolakan terhadap kiriman MBG selanjutnya.

“Kami menolak demi nyawa siswa. Mengingat 31 anak didik kami sudah menjadi korban, kami tidak mau mengambil risiko lagi,” pungkasnya dengan nada tinggi. Bagi masyarakat Manggarai Barat, keselamatan anak kini menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar, meskipun program nasional menjadi taruhannya. (*)

Exit mobile version