Lebih lanjut, Al Balad dulunya merupakan gerbang bisnis utama Arab. Jemaah haji dan umrah sedunia juga rutin melewati rute ini.
Mereka singgah dan turut membawa pengaruh budaya dari negara asal. Percampuran budaya multinasional ini terlihat jelas pada arsitektur Masjid Al Shafi’i.
Pusat Diplomasi di Masa Lalu
Pada masa lalu, Al Balad juga menjadi pusat diplomasi penting. Mesir membuka kedutaan besar pertamanya langsung di kawasan bersejarah ini.
Indonesia juga pernah memiliki kantor perwakilan resmi di Al Balad. Saat itu, negara kita masih berada di bawah pemerintahan Belanda.
Menariknya, arsitektur gedung kedutaan kita sangat mirip dengan bangunan Nusantara. Jendela kayu berkisi di sana menjadi ciri khas yang pasti sangat familiar.
Surga Belanja dan Spot Foto
Konstruksi unik Al Balad menciptakan banyak sudut jalan yang estetik. Wisatawan sering memanfaatkan sudut tersebut sebagai spot foto yang keren.
Setelah puas berfoto, kamu bisa mampir ke area pasar tradisional. Banyak pedagang lokal menjual ragam suvenir, makanan lezat, dan pakaian.
Menariknya, harga barang dagangan di sini terbilang cukup terjangkau. Oleh sebab itu, Al Balad sangat cocok menjadi penutup perjalanan umrahmu. (*)