Opsi kedua adalah memakai format kandang-tandang. Spanyol main di Bernabeu, sedangkan Argentina di Buenos Aires. Lagi-lagi, Argentina menolak tawaran kedua tersebut. UEFA lalu meminta Argentina main di tempat netral. Stadion San Siro atau Wembley menjadi alternatif Eropa.
Argentina tetap teguh menolak usulan ketiga tersebut. Mereka justru meminta laga ditunda usai Piala Dunia. Kini giliran Spanyol menolak karena jadwal amat padat. Pertemuan pun buntu tanpa ada kesepakatan jadwal baru. Akhirnya, UEFA merilis pernyataan pembatalan secara resmi.
Dalam rilis resmi, UEFA mengungkapkan rasa kecewa mereka. “Pertandingan tidak dapat berlangsung sesuai rencana,” tulis UEFA. Mereka sangat sedih gagal menggelar laga di Qatar. “Ini merupakan kekecewaan besar bagi UEFA,” tambah pernyataan tersebut.
Pihak CONMEBOL merespons pembatalan ini dengan merilis pembelaan. “CONMEBOL dan AFA konsisten menegaskan kesediaan,” klaim mereka. Pihak Amerika Selatan menyalahkan keterbatasan waktu dari Spanyol. “Sayangnya, kesepakatan akhir tidak dapat tercapai,” lanjut rilis CONMEBOL.
Keterbatasan waktu menjadi penghalang utama laga bergengsi ini. Reuni Lionel Messi dan Lamine Yamal dipastikan batal. Fans gagal menikmati duel dua bintang beda generasi. Sebelumnya, Argentina sukses menjuarai ajang Finalissima edisi 2022. Saat itu, mereka berhasil membungkam Italia dengan skor 3-0. (*)
