### Anggaran PU Perkim Menguap, Tribun Jadi Ajang Mesum

Keindahan Taman Kota Baturaja terselip dibalik rumput liar.
BATURAJA, TRANSPARANN.ID – Alih-alih menjadi ruang terbuka hijau yang menyejukkan mata dan ramah anak, Taman Kota Baturaja kini telah bertransformasi wujud menjadi “taman semak belukar” di tengah kota sekaligus surga bagi para pelaku maksiat.
Wajah pusat hiburan keluarga kebanggaan masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) ini benar-benar hancur lebur akibat ketidakbecusan instansi terkait.
Rumput ilalang dibiarkan tumbuh menjulang liar, sementara kawasan tribun dibiarkan gelap gulita pada malam hari tanpa sedikit pun penerangan.

Also Read
Ironisnya, kondisi memalukan ini terjadi secara nyata di tengah ketersediaan anggaran pemeliharaan yang bercokol manis di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten OKU.
Pada siang hari, pengunjung yang datang langsung disuguhi pemandangan rumput liar yang tingginya nyaris menyentuh betis orang dewasa.
Estetika tata kota Bumi Sebimbing Sekundang lenyap tak berbekas. Fasilitas publik yang seharusnya memancarkan keindahan dan kenyamanan, kini justru menebar ancaman nyata berupa sarang nyamuk, serangga berbisa, hingga menjadi habitat ideal bagi ular liar.
Pembiaran luar biasa ini sontak memicu tanda tanya besar.
Kelalaian ini membuktikan betapa tumpulnya kinerja dan kepekaan para pejabat di Dinas PU Perkim Kabupaten OKU.
Tragedi moralitas justru semakin parah mengambil alih Taman Kota Baturaja saat matahari mulai tenggelam.
Kawasan tribun taman yang tak lagi memiliki lampu penerangan langsung berubah fungsi menjadi spot favorit bagi pasangan-pasangan tak tahu malu untuk berbuat mesum.
Ketiadaan cahaya seolah menjadi “fasilitas ekstra” yang disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah daerah guna memuluskan aksi amoral di ruang publik.
Pemandangan menjijikkan ini tentu sangat meresahkan warga sekitar yang melintas atau keluarga yang berniat mencari angin malam.
Publik secara terbuka mulai mempertanyakan integritas Dinas PU Perkim OKU.
Jika alokasi dana perawatan taman telah disetujui dan dicairkan setiap tahunnya, lalu menguap ke kantong siapa uang rakyat tersebut?
Memotong rumput dan memasang beberapa bohlam lampu bukanlah pekerjaan konstruksi raksasa yang membutuhkan teknologi tinggi ataupun alat berat.
Kegagalan mengeksekusi tugas sepele ini menjadi bukti nyata dari kebobrokan manajemen birokrasi pemeliharaan fasilitas daerah.

Realita dibalik megahnya reklama wajah Bupati dan Wakil Bupati OKU, menyuguhkan rumput yang tak terawat dan sampah yang berserak.
Hasanuddin (45), salah seorang warga Kecamatan Baturaja Timur, meluapkan amarahnya saat ditemui melintas di area taman.
Ia menganggap Pemerintah Kabupaten OKU telah gagal total dalam menjaga aset daerah dan malah menciptakan tempat pembuangan anggaran yang sia-sia.
“Ini Taman Kota atau padang savana campur tempat lokalisasi gelap? Kalau siang jadi sarang ular karena rumputnya setinggi betis, kalau malam jadi sarang jin dan orang pacaran mesum karena gelap gulita,” sungut Hasan.
Dirinya mempertanyakan kinerja Dinas PU OKU, apakah sedang tidur nyenyak di ruangan ber-AC? Uang perawatan taman miliaran rupiah itu larinya ke mana?
“Jangan sampai masyarakat yang harus turun tangan bawa mesin potong rumput dan beli lampu sendiri ke taman, sementara pejabatnya ongkang-ongkang kaki menikmati dana pemeliharaan buta!” serang Hasanuddin dengan nada sangat geram.
Nada kekecewaan yang tak kalah menukik juga dilontarkan oleh Marni (38), seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Baturaja Barat.
Ia merasa ruang publik di kotanya sudah tidak lagi aman dan beradab bagi perkembangan mental anak-anak, serta menuntut ketegasan langsung dari pucuk pimpinan.
“Sebagai seorang ibu, saya sungguh jijik melihat kondisi tribun kalau malam hari,” cicit Marni.
Menurutnya, lantaran tidak adanya lampu di tribun taman kota, banyak pasangan yang berbuat tidak senonoh karena memang tidak ada lampu satu pun yang menyala.
“Kalau untuk urusan remeh beli lampu dan bayar tukang potong rumput saja kalian tidak sanggup mengurusnya, silakan mundur saja dari jabatan,” kecam Marni.
Pemerintah daerah ini seakan memfasilitasi kemaksiatan di Baturaja! Kepala Dinas PU harus bertanggung jawab penuh atas dosa sosial ini.
“Jangan sampai Dinas PU Perkim OKU permalukan nama Kabupaten OKU di mata orang luar dengan menyajikan taman mesum penuh semak belukar!” kecam Marni tanpa ampun.
Kritik tajam dan nyelekit dari masyarakat ini bukanlah pepesan kosong belaka. Hal ini merupakan akumulasi dari kegetiran warga yang merasa dikhianati oleh para pemangku kebijakan.
Publik menuntut kejelasan audit. Jika memang terbukti ada penyelewengan dana perawatan yang disengaja, aparat penegak hukum wajib segera turun tangan memeriksa indikasi korupsi tersebut.
Warga Baturaja tidak lagi membutuhkan janji manis atau alasan klasik birokrasi yang berbelit-belit.
Kegagalan membenahi Taman Kota Baturaja hanya akan mengukuhkan pandangan bahwa Pemerintah Kabupaten OKU tidak memiliki kompetensi dalam merawat apa yang sudah mereka bangun.
Terpisah, Kepala Dinas PU Perkim Kabupaten OKU, Muzaim, dikonfirmasi portal ini melalui nomor telepon +6285367xxxx71 belum direspon. (*)














